Akibat Nyeret

0
704

Mengonsumsi sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik, apalagi bila yang dikonsumsi pada dasarnya sesuatu yang ‘tidak baik’, salah satunya adalah candu. Candu adalah hasil olahan dari opium (Jawa = apyun), yakni getah yang diambil dari buah papaver somniferum. Opium merupakan sumber obat bius yang di dalamnya tercakup pula morfin dengan turunannya atau bentukannya yang dinamakan heroin. Pada masa sekarang termasuk dalam golongan narkoba.

Nyeret bagi orang Jawa
Cover Buku “Nyeret Bagi Orang Jawa”.

Pada awalnya, getah opium digunakan sebagai sumber obat bius dan sebagai pengurang rasa sakit atau nyeri. Ini adalah manfaat positif dari segi medis. Tetapi opium ini dapat bersifat candu atau membuat ketagihan apabila penggunaannya tidak sebagaimana mestinya sesuai kebutuhan yang diharuskan. Orang yang sudah ketagihan pasti akan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Buku ini membahas tentang Serat Erang-Erang karya R Ng Wirapustaka yang membicarakan tentang opium. Kata ‘erang-erang’ berarti ‘larangan’ atau ‘peringatan’. Serat Erang-erang berisi lima belas cerita yang mengisahkan kehidupan para penghisap candu, yang dalam istilah Jawa disebut nyeret. Cerita ini terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda, yang pada saat itu pemerintah melegalkan jual-beli opium.

Cerita-cerita yang dikisahkan dalam Serat Erang-Erang menggambarkan bahwa tidak ada manfaat atau dampak positif yang dihasilkan dari kegemaran menghisap candu atau nyeret. Orang yang tadinya baik menjadi tidak baik, yang semula sabar menjadi tidak sabar, yang tadinya rajin menjadi malas.

Pendek kata dia hanya ingin menghisap candu. Bila sampai tidak menghisap rasanya tidak nyaman, tidak enak. Bila sudah menghisap yang dirasakan adalah seperti di “surga” semua serba enak, padahal kenikmatan tersebut adalah semu. Makin lama kebutuhan nyeret makin tinggi, padahal daya produksi justru berkurang. Maka untuk memenuhi kebutuhan nyeret apa yang dimiliki dijadikan uang untuk membeli candu atau opium tersebut. Akhirnya terperosok dalam kehancuran, kesengsaraan dan kesakitan hingga akhir hayatnya.

Berdasarkan cerita dari Serat Erang-erang penghisap maupun pengedar candu merambah berbagai kalangan, profesi dan usia. Tidak hanya kalangan masyarakat bangsawan, pejabat dan orang-orang berharta, tetapi juga orang-orang kebanyakan seperti seniman/seniwati, pedagang, buruh maupun pelaku kriminal. Orang-orang yang semula hidup tenang, bahagia dan damai akhirnya mengalami kehancuran karena candu. Pada intinya, Serat Erang-Erang ini berisi petuah atau peringatan agar tidak menjadi pecandu/nyeret karena tidak ada manfaatnya sama sekali.

  • Nyeret bagi orang JawaJudul:
    Nyeret bagi Orang Jawa. (Kajian Serat Erang-erang)
  • Penulis:
    Endah Susilantini, Suyami
  • Penerbit:
    BPNB, 2016, Yogyakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    viii + 146

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here