Kirab Gunungan Garebeg sebagai Puncak Acara Sekaten

0
1555

Upacara Adat Garebeg Sekaten merupakan agenda rutin yang selalu dilakukan oleh keraton-keraton Islam di Jawa, termasuk Keraton Kasultanan Yogyakarta. Garebeg Sekaten di bulan Mulud merukan upacara Garebeg Sekaten yang cukup besar karena upacara ini dimaksudkan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Jenis Gunungan Kakung disiapkan di Keben (Bangsal Pancaniti) Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Jenis Gunungan Kakung disiapkan di Keben (Bangsal Pancaniti) Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Kebesaran dari upacara ini bisa dilihat dari banyaknya massa yang memperebutkan gunungan, kehadiran para penjual nasi gurih, penjual telur merah (Ndhog Abang), sirih ayu, beberapa barang berkait dengan dunia pertanian (caping, cemeti, dan tali untuk binatang ternak). Para penjual ubarampe semacam itu hampir tidak ditemukan pada Upacara Adat Garebeg Sekaten di bulan lain (bulan Besar maupun Syawal).

Puncak Upacara Adat Garebeg Mulud tahun 2016 dilaksanakan pada hari Senin 12 Desember 2016/ 12 Mulud Je 1950. Start kirab gunungan untuk Garebeg Mulud ini dimulai di Keben. Sementara para prajurit pengiring gunungan memulai persiapan menata diri di Magangan. Rute yang ditempuh dalam kirab gunungan mulai dari Magangan-Sitihinggil Lor-Pagelaran-Alun-alun Lor-Masjid Gede Keraton Yogyakarta (Kauman).

Gunungan Kakung sedang diarak menuju halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta pada Upacara Garebeg Sekaten 2016. Foto: A. Sartono
Gunungan Kakung sedang diarak menuju halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta pada Upacara Garebeg Sekaten 2016. Foto: A. Sartono

Bregada atau kesatuan-kesatuan prajurit keraton yang mengiringi atau mengawal gunungan tersebut adalah Bregada Prajurit Wirabraja, Prajurit Daeng, Prajurit Bugis, Prajurit Prawiratama, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jagakarya, Prajurit Nyutra, Prajurit Ketanggung, Prajurit Surakarsa, dan Prajurit Mantrijero.

Sedangkan gunungan yang dikirab dalam Upacara Garebeg Sekaten bulan Mulud 2016 ini berjumlah tujuh buah. Tiga buah gunungan disebut sebagai Gunungan Kakung (pria), satu Gunungan Putri (perempuan), satu Gunungan Gepak, satu Gunungan Pawuhan, dan satu Gunungan Bromo. Untuk dua buah Gunungan Kakung masing-masing diberikan ke Kepatihan dan ke Pura Paku Alaman Yogyakarta.

Gunungan Putri diarak menuju halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Gunungan Putri diarak menuju halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Kemeriahan dan besarnya massa yang akan merebut atau menyaksikan kirab gunungan ini bisa juga dilihat dari antusiasme warga dari luar kota Yogyakarta yang telah berdatangan satu hari sebelumnya. Mereka bahkan rela menginap di tempat terbuka di seputar halaman Masjid Gede Keraton Yogyakarta dengan hanya beralaskan tikar.

Konten Terkait:  Balkonjazz Festival 2019 Mengangkat Musik dan Potensi Lokal
Kerumunan orang berebut gunungan di halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta dalam Upacara Garebeg Sekaten. Foto: A. Sartono
Kerumunan orang berebut gunungan di halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta dalam Upacara Garebeg Sekaten. Foto: A. Sartono

“Kula pun kit wingi sowan ngriki Mas. Sumelang yen ora entuk nggon.” (Saya sudah sejak kemarin datang ke sini Mas. Takut kalau sampai tidak kebagian tempat). Demikian tutur seorang ibu yang berasal dari Kulon Progo dan tidak mau disebut namanya kepada Tembi.

“Saya dari Bali tapi kerja di Jakarta. Sengaja datang ke sini untuk menyaksikan peristiwa ini karena seumur hidup saya belum pernah menyaksikan secara langsung,” tutur seorang food blogger dan graphic designer bernama Ni Luh Ketut Sukarniasih (Sashy) yang secara kebetulan juga melakukan peliputan bareng dengan Tembi.

Prajurit Surakarsa pulang dari Masjid Agung Keraton Yogyakarta seusai ikut kirab gunungan. Foto: A. Sartono
Prajurit Surakarsa pulang dari Masjid Agung Keraton Yogyakarta seusai ikut kirab gunungan. Foto: A. Sartono

Kirab gunungan semacam itu di samping menjadi tanda atau simbol kemurahan dan menyatunya raja dengan kawula juga menjadi tanda ditutupnya rangkaian Upacara Sekaten, termasuk pasar malam yang berlangsung sekitar satu bulan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here