Makna Simbolik Pernik-pernik Sekaten

0
738

Dalam perayaan sekaten, utamanya Sekaten di bulan Mulud, yakni bulan Jawa yang merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad, di seputaran Masjid Gede Keraton Yogyakarta akan ditemukan banyak penjual nasi gurih, endhog abang (telur warna merah), tali untuk binatang ternak, pecut (cemeti), caping, dan suruh ayu (sirih cantik). Menurut beberapa sumber, penjualan benda-benda itu pada acara sekaten sudah terjadi sejak zaman Kerajaan Demak. Selain merupakan tradisi benda-benda itu memiliki beberapa makna dan tujuan.

Penjual sega gurih dalam Perayaan Garebeg Sekaten bulan Mulud di Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Penjual sega gurih dalam Perayaan Garebeg Sekaten bulan Mulud di Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Sega gurih (nasi gurih) lengkap dengan segala macam lauk seperti telur dadar, ingkung ayam, kacang goreng, kedelai goreng, kering tempe, kerupuk, srundeng, abon, dan lalapan dipercaya sebagai cara untuk mengenang dan menghormati Nabi Muhammad. Alasannya adalah bahwa sekul gurih sering juga disebut sekul suci, dibuat khusus untuk penghormatan.

Nasi jenis ini dalam masyarakat Jawa memang terbilang istimewa karena rasanya yang sangat enak dan lauknya lengkap. Nasi ini hampir tidak bisa ditemukan dalam keseharian hidup orang Jawa. Nasi ini umumnya hanya bisa ditemukan dalam kenduri untuk peringatan orang yang telah meninggal. Sekul Suci juga sebagai bentuk peringatan agar orang selalu berhati, berpikiran, berbicara, dan bertindak suci. Sekul Gurih versi Jawa ini hakikat dan perniknya tidak sama dengan nasi uduk Betawi.

Sementara tali untuk ternak, caping, dan pecut juga diperjualbelikan dalam acara ini karena dipercaya bahwa semua peralatan tersebut dapat memberikan berkah bagi ternak dan dunia pertanian. Alasannya adalah karena semua barang tersebut dijual di acara Sekaten bulan Mulud dimana doa-doa dari Masjid Agung beserta gending-gending sakral dari sekitar Masjid Agung (di gedung Pagongan) yang dilantunkan dipercaya menjadi perantara berkah.

Penjual endhog abang dan suruh ayu dalam Perayaan Garebeg Sekaten di bulan Mulud di Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Penjual endhog abang dan suruh ayu dalam Perayaan Garebeg Sekaten di bulan Mulud di Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Sedangkan endhog abang dianggap merupakan simbol awal kehidupan (janin/awal kelahiran). Rangkaian bunga yang ada di atas telur dan di bawah telur yang menghiasi butiran telur sebagai lambang atau harapan agar bayi yang akan dan baru lahir kelak memperoleh hidup yang berkembang mewangi, harum namanya. Warna merah dalam endhog abang juga menjadi simbol semangat atau harapan. Intinya agar orang hidup di dunia selalu penuh semangat dan penuh harapan kepada Tuhan. Bentuk bulat telur juga merupakan simbol bersatunya raja-kawula. Persatuan yang bulat.

Konten Terkait:  Darmo Utomo Prihatin Bahasa Jawa Terancam Punah di Suriname
Penjual tali, cemeti dan caping dalam Perayaan Garebeg Sekaten di bulan Mulud di Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Penjual tali, cemeti dan caping dalam Perayaan Garebeg Sekaten di bulan Mulud di Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Suruh ayu yang dipercaya dapat memberikan berkah supaya awet muda dan panjang umur juga sering dikaitkan dengan sadak, yaitu alat semacam alu (antan) kecil yang digunakan untuk melumatkan sirih dalam wadahnya. Sirih dan macam-macam bahan untuk mengunyah sirih pada masa lalu sering tidak bisa dilepaskan dengan alat yang disebut sadak kinang ini. Sadak sendiri sering dimaknai sebagai syahadat. Dengan demikian, orang yang membeli suruh ayu dalam acara Sekaten ini sama artinya dengan selalu mengingat dua kalimat syahadat. Suruh ayu umumnya juga dilengkapi dengan sekuntum bunga kantil. Hal ini sebagai lambang agar orang yang membeli sirih lengkap dengan tembakau, gambir, dan apu (kapur) selalu kumanthil-kanthil (teringat terus-menerus) pada kalimat syahadat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here