Puisi, Perempuan dan Bulan Purnama

0
811

Para perempuan berkebaya, di tengah Bulan Purnama yang cerah, masing-masing memegang buku antologi puisi berjudul ‘Wajah Ibu’. Mereka secara gantian membacakan puisi karyanya sendiri dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi ke-63, Rabu malam 14 Desember 2016 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dari 35 penyair yang puisinya tergabung dalam antologi puisi ‘Wajah Ibu’, hadir 25 penyair dan membacakan puisi karyanya. Para penyair datang dari beberapa kota; Surabaya, Sidoarjo, Magelang, Semarang, Tulungagung, Jakarta, Pamulang, Bekasi, Yogyakarta dan kota lainnya.

“Senang rasanya kita bisa saling kenal dan bertemu di Tembi,” kata Yuliani Kumudaswari penyair yang tinggal di Sidoarjo.

Sebelumnya, mereka banyak yang belum saling kenal langsung, tetapi sudah bersahabat di Facebook, dan Sastra Bulan Purnama mempertemukan mereka dan kemudian saling bersahabat. Mereka mengenakan kebaya, karena ada janjian bersama melalui Facebook, dan kesepakatan itu mereka jalankan bersama.

Dua penampil Endah SR dan Annisa Hertami. Foto: Budi Adi
Dua penampil Endah SR dan Annisa Hertami. Foto: Budi Adi

Kali ini, pembacaan puisi tidak tampil satu per satu secara bergantian seperti selama ini telah berlangsung, tetapi dikelola dalam bentuk pertunjukan dan dibagi dalam lima segmen. Skenario yang disediakan setiap segmen diisi oleh 7 penyair, sehingga sesuai jumlah 35 penyair.

Pada segmen pertama, tampil 6 penyair dalam komposisi 3 penyair duduk dan 3 penyair berdiri. Secara bergantian dan bersambung masing-masing membacakan satu puisi karyanya sendiri, misalnya Agustina Maria, penyair dari Semarang, membaca puisi sambil berdiri dan dilanjukan Heti Palestina, penyair dari Surabaya, yang mengambil posisi duduk.

Pada segmen kedua, komposisinya berubah, satu penyair, dalam hal ini Endah SR berdiri di tepi panggung di atas rerumputan, dan satu penyair lainnya, Endah Raharjo, duduk di tengah penonton. Empat penyair lainnya duduk di atas panggung. Sambil melangkah ke panggung Endah membaca puisi dan mendekati Diah Rofika, penyair dari Pamulang, yang kemudin diteruskan Diah membaca puisi begitu seterusnya, dan diakhiri oleh Endah Raharjo, dari tengah penonton dia sudah mulai membaca puisi sambil menuju di tengah panggung bergabung dengan para penyair lainnya.

Suasana pertunjukan sepeti itu kelihatan terasa hidup dan tertata, dan masing-masing penyair saling menyimak penyair lainnya yang sedang membaca, sehingga kapan selesai membaca dilanjutkan penyair lainnya membaca puisi karyanya.

Sekitar pukul 21.30, pada segmen terakhir, yang menampilkan Ratih Alsaira, Umi Kulsum, Savitri Damayanti dan Annisa Hertami, rembulan tidak lagi kelihatan menghiasi, sehingga langit tampak gelap. Pembacaan terus berlangsung, sampai puncak yang diakhiri dengan pembacaan dari Annisa Hertami, seorang bintang film, yang pernah memainkan beberapa film karya Garin Nugroho.

Dua pembaca puisi Savitri Damayanti dan Wicahyati Rejeki. Foto: Budi Adi
Dua pembaca puisi Savitri Damayanti dan Wicahyati Rejeki. Foto: Budi Adi

Dari tengah penonton, Annisa bangkit berdiri sambil berkata: “Kita harus bangga pada 35 perempuan yang berkarya dan malam ini tampil di Sastra Bulan Purnama. Mari kita beri tepuk tangan untuk mereka”. Hadirin tepuk tangan merespon ajakan Annisa Hertami.

“Dalam hidup saya, ada dua perempuan yang saya kagumi, pertama ibu saya, dan kedua tante saya yang menggantikan ibu saya, Maka puisi yang saya bacakan ini saya dedikasikan kepada keduanya dan untuk semua perempuan di dunia,” kata Annisa. Dan kemudian Annisa Hertami membaca puisi karyanya berjudul ‘Ibu’.

Pembacaan puisi berakhir, dilanjutkan dengan penampilan grup musik ‘Laguna’ yang menggubah dua puisi karya Ratih Alsaira. Para personil sudah siap di panggung, dan sudah mulai dibuka dengan pengantar. “Malam ini saya akan menyanyikan dua lagu puisi karya Ratih Alsaira,” kata Pungky Purbowo.

Petikan gitar baru dimulai, tiba-tiba ada suara angin kencang. Semua orang diam menyimak angin, dan tiba-tiba: bres.. hujan lebat datang. Tak ayal semua orang lari berteduh.

“Rupanya, hanya hujan yang bisa menghentikan kita,” kata Ida Fitri, salah satu penyair dari 35 penyair sambil berkelakar. Ida Fitri sekaligus adalah penyiar Radio Sonora Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here