Upacara Tumplak Wajik di Keraton Kasultanan Yogyakarta

0
4089

Untuk menyelenggarakan Upacara Garebeg Sekaten yang selalu diadakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta ada beberapa tahapan yang perlu dilalui. Salah satu tahapan yang mesti dijalani adalah Upacara Tumplak Wajik, yang dilakukan untuk mengawali pembuatan gunungan. Gunungan adalah sarana paling penting dalam Upacara Garebeg.

Wajik yang telah ditumpahkan kemudian diberi kerangka untuk membuat gunungan. Foto: A. Sartono
Wajik yang telah ditumpahkan kemudian diberi kerangka untuk membuat gunungan. Foto: A. Sartono
Mustaka gunungan sedang dipasang dalam rangka persiapan pembuatan gunungan di Panti Pareden, Magangan, Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Mustaka gunungan sedang dipasang dalam rangka persiapan pembuatan gunungan di Panti Pareden, Magangan, Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Gunungan adalah rangkaian aneka makanan dan hasil bumi yang disusun menyerupai bentuk gunung (seperti tumpeng). Gunungan inilah yang akan dikirab dalam Upacara Garebeg dengan pengawalan bregada-bregada (pasukan) prajurit keraton untuk kemudian didoakan di depan Masjid Agung keraton dan kemudian dibagikan/diperebutkan masyarakat.

Upacara Tumplak Wajik di Keraton Yogyakarta selalu dilakukan di sebuah tempat/bangunan yang dinamakan Panti Pareden yang berada di kompleks Magangan Keraton Yogyakarta. Disebut Panti Pareden karena bangsal ini digunakan untuk membuat redi/ardi yang berarti gunung, yang dalam hal ini adalah gunungan untuk keperluan Upacara Garebeg Sekaten.

Boreh dari dlingo dan bengle dibalurkan di kanan kiri calon gunungan oleh abdi dalem wanita. Foto: A. Sartono
Boreh dari dlingo dan bengle dibalurkan di kanan kiri calon gunungan oleh abdi dalem wanita. Foto: A. Sartono

“Pembuatan gunungan ini selalu diawali dengan membuat Gunungan Putri atau Gunungan Wadon. Hal itu dilakukan karena di dalam perempuan itulah awal kehidupan atau kesinambungan hidup dimulai. Namun dalam kirab gunungan Gunungan Lanang atau pria lah yang berada di depan karena pria adalah pemimpin,” kata KRT Rinto Isworo (73), Abdi Dalem Widya Budaya Keraton Yogyakarta yang ditemui Tembi, Jumat, 9 Desember 2016 di Panti Pareden, Magangan, Keraton Yogyakarta.

GKR Mangkubumi menerima boreh di bagian kaki oleh abdi dalem wanita Keraton Yogyakarta dalam Upacara Tumplak Wajik. Foto: A. Sartono
GKR Mangkubumi menerima boreh di bagian kaki oleh abdi dalem wanita Keraton Yogyakarta dalam Upacara Tumplak Wajik. Foto: A. Sartono

Wajik yang terbuat dari ketan dan gula merah yang ditumplak (ditumpahkan dari bakul) kemudian di atasnya diberi kerangka bambu untuk membuat gunungan bisa dipandang sebagai menyatunya unsur laki-laki dan perempuan yang menunjukkan kesuburan, harmoni, ketenteraman, dan kemakmuran. Pada saat wajik ini ditumplak, maka Abdi Dalem Wahana Sarta Kriya akan memukul lesung dengan irama tertentu untuk mengiringi proses pembuatan gunungan tersebut. Upacara Tumplak Wajik biasanya berada di bawah koordinasi dari istri dan para putri raja. Untuk Upacara Tumplak Wajik kali ini tampak hadir GKR Mangkubumi, segenap abdi dalem putri dan abdi dalem lainnya.

Untuk Upacara Garebeg Mulud 2016 ini disiapkan 7 buah gunungan. Lima gunungan akan diperebutkan untuk masyarakat, 1 gunungan diberikan ke kepatihan, dan 1 gunungan diberikan ke Pura Paku Alaman. Sedangkan jenis-jenis gunungan tersebut adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri, Gunungan Darat, Gunungan Gepak, dan Gunungan Pawuhan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here