Upacara Miyos Gangsa sebagai Tanda Bahwa Gamelan Sekaten akan Dibunyikan

0
1031

Miyos Gangsa (keluarnya gamelan) dari keraton menuju kompleks Masjid Agung Keraton dipercaya sudah dilakukan sejak Kerajaan Demak berdiri. Hal demikian dilakukan untuk menyambut dan memeriahkan tradisi Sekaten. Mengingat Keraton Surakarta hanya mewarisi gamelan pusaka bernama Kyai Sekati dan Yogyakarta hanya mewarisi Nyai Sekati padahal dalam tradisi Sekaten kedua gamelan digunakan bersama, maka kedua kerajaan membuat duplikat gamelan pusaka yang tidak dimilikinya.

Gamelan mulai dikirab dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Agung Keraton Yogyakarta dalam Upacara Adat Miyos Gangsa. Foto: A. Sartono
Gamelan mulai dikirab dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Agung Keraton Yogyakarta dalam Upacara Adat Miyos Gangsa. Foto: A. Sartono

Yogyakarta sendiri atas inisiatif Sultan Hamengku Buwana I kemudian membuat duplikat bagi kedua gamelan tersebut. Duplikat gamelan pusaka Kyai Sekati kemudian dinamakan Kyai Nagawilaga dan duplikat gamelan pusaka Nyai Sekati dinamakan Kyai Gunturmadu.

Kedua gamelan pusaka itulah yang dikeluarkan mulai dari Bangsal Kotak menuju Bangsal Pancaniti dan kemudian menuju Pagongan Lor dan Pagongan Kidul di depan Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Itulah awal prosesi Miyos Gangsa yang dilaksanakan Keraton Yogyakarta pada hari Senin malam, 5 Desember 2016. Sebelum dikirab gamelan pusaka Kyai Nagawilaga ditempatkan di sisi barat Bangsal Pancaniti dan Kyai Gunturmadu di sisi timurnya. Gamelan pusaka itu sendiri mulai dibunyikan pada pukul 19.00 WIB sebagai tanda dimulainya prosesi Miyos Gangsa Sekaten.

Para pembawa lentera sebagai cucuk lampah dalam Upacara Adat Miyos Gangsa. Foto: A. Sartono
Para pembawa lentera sebagai cucuk lampah dalam Upacara Adat Miyos Gangsa. Foto: A. Sartono

Gamelan tersebut dibunyikan hingga pukul 23.00 WIB. Di tengah alunan bunyi gamelan itu hadirlah utusan Sultan Hamengku Buwana X, anggota keluarga raja dan kerabatnya (rayi dalem) untuk menyebarkan Udik-udik. Hal itu dilaksanakan pada pukul 20.00 WIB. Udik-udik adalah uang logam, beras kuning, dan kembang setaman yang diletakkan dalam satu wadah kemudian disebarkan kepada masyarakat untuk diperebutkan. Bertindak sebagai penyebar Udik-udik dalam kesempatan ini adalah GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat, dan GBPH Prabukusuma.

Abdi Dalem Gladhag membawa gamelan pusaka Keraton Yogyakarta memasuki halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Abdi Dalem Gladhag membawa gamelan pusaka Keraton Yogyakarta memasuki halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Tepat pukul 23.00 WIB gamelan pusaka Kyai Nagawilaga dan Kyai Gunturmadu dikirab dari Bangsal Pancaniti menuju Masjid Agung Keraton Yogyakarta di bawah pengawalan dua bregada prajurit keraton, yakni Bregada Prajurit Jagakarya dan Bregada Prajurit Patangpuluh. Sedangkan orang-orang yang membawa gamelan tersebut disebut sebagai Abdi Dalem Gladhag atau Kanca Abang karena baju dan topi (kuluk)-nya berwarna merah.

Konten Terkait:  Tradisi Sawalan, dari Kartu Pos hingga Hape
Gamelan pusaka milik Keraton Yogyakarta mulai memasuki halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Gamelan pusaka milik Keraton Yogyakarta mulai memasuki halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Ada pun rute yang ditempuh adalah mulai dari Bangsal Pancaniti-Regol Brajanala-Siti Hinggil-turun ke Pagelaran Keraton-Alun-alun Lor. Setelah sampai di selatan dua pohon beringin di tengah Alun-alun Lor kemudian berbelok ke kiri (barat) memasuki Gapura Masjid Agung-Pagongan Lor dan Pagongan Kidul. Untuk gamelan pusaka Kyai Gunturmadu diletakkan di Pagongan Kidul dan gamelan pusaka Kyai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Lor. Setelah di Pagongan, gamelan pusaka tersebut akan dibunyikan setiap hari hingga satu hari menjelang Upacara Garebeg. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here