Pengasuhan Anak Berdasarkan Tradisi Jawa

0
703

Serat Tata Cara merupakan naskah Jawa yang berisi penggambaran tradisi yang masih berlaku dalam masyarakat Jawa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Naskah ini ditulis pada tahun 1893 oleh Ki Padmasusastra, tetapi baru diterbitkan tahun 1911. Naskah ini ditulis dalam bentuk huruf Jawa cetak, berbahasa Jawa dan berbentuk dialog antar tokoh melalui suatu cerita.

Isi pokok Serat Tata Cara adalah upacara tradisi yang harus dilalui sejak masih berwujud janin sampai remaja. Yang dibahas adalah tata upacara tradisi pada saat kehamilan (mulai satu bulan sampai sembilan bulan), kelahiran, puputan (lepasnya tali pusar), selapanan (saat berusia 35 hari). Kemudian pada saat kanak-kanak ada nyapih (lepas susu ibu) dan tedhak siten (mulai belajar jalan). Memasuki usia remaja ada tetesan (‘sunat” tapi untuk anak perempuan) dan pasah/pangur (memotong gigi, terutama gigi taring).

Kajian Serat Tata CaraUntuk penghematan, dalam pelaksanaan upacara itu dapat digabung kalau memang memungkinkan. Dalam buku tersebut dicontohkan upacara tetesan dilakukan sekalian dengan upacara tumbuk (peringatan usia 33 tahun). Yaitu tumbuk R.Ng. Tangkilan bersama-sama tetesan putrinya, Suwarni.

Tujuan utama dari upacara tradisi tersebut adalah memohon keselamatan dan ucapan syukur. Demi keselamatan (kawilujengan) tersebut ada beberapa pantangan yang harus dijalani terutama oleh yang bersangkutan. Dalam upacara tradisi ini sebenarnya mengandung ajaran tentang cara-cara mendidik anak. Memang tidak semuanya dijabarkan secara langsung, tetapi dapat dipahami melalui perlengkapan dan peralatan yang digunakan yang penuh makna simbolik.

Sesaji adalah salah satu perlengkapan pokok yang “diperuntukkan” pada pihak-pihak tertentu. Sesaji yang biasanya berwujud makanan atau minuman ini penuh dengan simbol atau makna-makna tertentu. Berbagai pantangan dan makna dari sesaji tersebut, dalam buku ini diuraikan cukup jelas.

Pelaksanaan tata upacara ini sebenarnya juga mengambarkan status sosial seseorang. Seseorang dengan status bangsawan, kaya, terpelajar dan terkemuka tentu saja akan berbeda dengan masyarakat umum apalagi masyarakat kecil. Dalam buku ini ada juga sedikit gambaran “sisi negatif” masyarakat Jawa yang sudah ada sejak dulu. Misal perjudian, penipuan, minuman keras dan poligami yang dianggap tidak adil.

Selain itu, setiap ritual siklus kehidupan manusia secara individual pasti melibatkan orang lain. Dari sini akan terlihat hubungan sosial budaya masyarakat Jawa. Seperti kegotongroyongan, saling menghormati dan tanggung jawab. Juga cara-cara seseorang menempatkan diri dan berinteraksi berdasarkan status (misal sebagai kakek/nenek, ayah/ibu, suami/istri, anak, pembantu, pembeli dengan penjual dan lain-lain).

  • Kajian Serat Tata CaraJudul:
    Potret Pengasuhan Anak sejak Dalam Kandungan hingga Remaja pada Masyarakat Jawa: Kajian Serat Tata Cara
  • Penulis:
    Sumarno, Titi Mumfangati
  • Penerbit:
    PBNB, 2016, Yogyakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    viii + 280

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here