Awas Spoor: Dunia Kereta dalam Karya Rupa Rismanto

0
628

Tidak menduga. Mungkin demikian komentar apresian Pameran Tunggal Seni Rupa Rismanto yang diberi tema “Awas Spoor” yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta, dari tanggal 3-12 Desember 2016. Tidak menduga karena nama Rismanto selama ini bisa dikatakan memang tidak pernah terdengar di dunia seni rupa (lukis) Yogyakarta.

Awas Spoor # 9 Kepala Naga, 2 panel @ 280 x 380 cm, Akrilik Pada Kanvas, 2015-2016, karya Rismanto. Foto: A. Sartono
Awas Spoor # 9 Kepala Naga, 2 panel @ 280 x 380 cm, Akrilik Pada Kanvas, 2015-2016, karya Rismanto. Foto: A. Sartono

Tidak menduga karena terbukti seorang Rismanto yang lebih banyak berperan dan menduduki tempat terhormat di sebuah studio animasi sebagai penyusun story board film animasi, mentor para yunior, serta aktif di berbagai workshop film animasi, justru seperti menjadi seperti “bom” yang mengejutkan di dunia seni lukis.

Tidak hanya apresian yang dikejutkan oleh kehadiran Rismanto, namun juga para pelukis kawakan serta kolektor dan kurator seni senior, dr Oei Hong Djien SpPA. Ia yang juga membuka pameran yang sedianya akan dibuka oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ini menyatakan terkejut. Ia juga tidak menduga, tiba-tiba saja muncul pelukis sehebat ini.

Awas Spoor # Di Antara Kencangnya Deru Angin, 180 x 300 cm, Akrilik Pada Kanvas, 2015 karya Rismanto. Foto: A. Sartono
Awas Spoor # Di Antara Kencangnya Deru Angin, 180 x 300 cm, Akrilik Pada Kanvas, 2015 karya Rismanto. Foto: A. Sartono

Dalam kuratorialnya, Suwarno Wisetrotomo pun menyatakan bahwa sebagai debutan baru, Rismanto menyodorkan dua kekuatan sekaligus yakni kekuatan visual yang utuh dan kekuatan gagasan (serta pesan) yang mengesankan. Pameran Awas Spoor ini menyiratkan keduanya.

Sebagian besar karya Rismanto fokus pada lokomotif dengan segala detailnya, juga rangkaian gerbong untuk penumpang maupun barang. Kecuali detail lukisan yang disajikan dalam ukuran yang sangat besar, Rismanto juga membuat miniatur jembatan plus kereta yang melintasinya. Miniatur yang sebagian besar bermaterialkan kayu itu pun di tangan Rismanto mewujud dalam visualisasi yang berasa besi (logam).

Awas Spoor # Saatku Merasakan Manis, 200 x 300 cm, Akrilik Pada Kanvas, 2016, karya Rismanto. Foto: A. Sartono
Awas Spoor # Saatku Merasakan Manis, 200 x 300 cm, Akrilik Pada Kanvas, 2016, karya Rismanto. Foto: A. Sartono

Karya Rismanto menerapkan pengalaman animasinya dalam bentuk lapis-lapis gambar (layering), persepektif yang cermat dan matang, tata cahaya yang teliti, detail-detail pada objek yang digarap dengan sangat baik. Contohnya, bentuk sekrup dan baut pada mesin lokomotif atau pada bentuk rel dapat dilihat dengan jelas dengan penempatan yang juga tepat. Bukan hanya itu. Rismanto juga menjadikan benda-benda itu (lokomotif atau gerbong) lebih dari sekadar “mesin bergerak”, tetapi menjadi sosok-sosok yang hidup.

Konten Terkait:  Home Sweet Home: Monumen dalam Sebuah Rumah Karya Anton Gautama

Salah satu karya Rismanto, Awas Spoor # Sembilan Kepala Naga, 2016 merupakan panorama yang dramatis. Sembilan lokomotif berjajar pada rel masing-masing dan tiap cerobongnya mengepulkan asap tebal menghitam. Sembilan jalur rel yang berjajar dan juga lokomotif yang berjajar siap jalan tidak dapat ditemukan dalam realita kehidupan. Itulah dunia imajiner yang memanggul pesan Rismanto.

Karya tiga dimensi dari Rismanto, menggiring imajinasi pada dunia kereta yang sesungguhnya. Foto: A. Sartono
Karya tiga dimensi dari Rismanto, menggiring imajinasi pada dunia kereta yang sesungguhnya. Foto: A. Sartono

Jika dilihat dari perspektif Rismanto sembilan lokomotif itu merupakan daya lahir batin dirinya untuk memasuki dunia kepelukisan (kesenimanan) yang tidak mudah dan arena itu harus mengerahkan segala daya, menggerakkan sembilan jurus, bermetamorfosa menjadi lokomotif yang perkasa dengan kepulan gagasan dan semangat yang penuh tenaga. Demikian antara lain kuratorial yang dituliskan oleh Suwarno Wisetrotomo dalam pameran yang antara lain didukung oleh Agung Tobing dan Kendilmas ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here