Pasar Keroncong Kotagede Bikin Keroncong Tak Pernah Usang

0
555

Untuk kali kedua Pasar Keroncong Kotagede digelar setelah sukses menyita perhatian masyarakat luas tahun lalu. Perhelatan ini digelar pada hari Sabtu, 3 Desember 2016 berlokasi di sekitaran Pasar Kotagede. Tua muda membaur menjadi satu, semua bersatu dalam alunan irama keroncong. Tak hanya penonton dari dalam negeri saja, bahkan penonton dari mancanegara pun sangat menikmati alunan musiknya.

Syaharani melantunkan lagunya yang semula jazz diubah menjadi keroncong. Foto: Indra
Syaharani melantunkan lagunya yang semula jazz diubah menjadi keroncong. Foto: Indra

Kotagede merupakan salah salah satu tempat tertua di Yogyakarta yang terkenal akan kerajinan peraknya, di sinilah keroncong bertumbuh. Dari tempat ini pula beragam aliran keroncong berkembang dan menjadi titik terpenting perkembangan musik keroncong itu sendiri, bahkan tak sedikit orkes keroncong yang masih eksis hingga saat ini. Ragam perkembangan irama keroncong mulai dari moor, stambul, keroncong beat hingga keroncong dangdut, seakan tak ada matinya.

Terdapat tiga panggung yang dapat dinikmati penonton melalui penampil-penampilnya, yaitu panggung Sayangan terletak di sebelah barat Pasar Kotagede, panggung Sopingen yang berada di sebelah barat daya pasar dan tentunya panggung Loring Pasar yang terletak persis di sebelah utara Pasar Kotagede. Penampil dari ketiga panggung tersebut sangat beragam, tak memandang usia, dari irama keroncong pakem hingga kreasi tersaji. Suasana semakin terasa hangat ketika tawa bersahutan saat pemandu acara mulai “berulah” dengan khas banyolan Jawa.

Nyanyi bareng lagu hitsnya Oppie Andaresta dengan irama keroncong. Foto: Indra
Nyanyi bareng lagu hitsnya Oppie Andaresta dengan irama keroncong. Foto: Indra

Lagu demi lagu dilantunkan berharap memberi suasana nyaman dalam pikiran. Malam itu sembari memberi wejangan, sang aktor kawakan Slamet Raharjo membuka secara resmi pagelaran Pasar Keroncong Kotagede. Ada satu lagi yang istimewa yaitu pada setiap penampilannya, setiap grup wajib membawakan lagu ciptaan almarhum Kusbini. Acara malam itu juga merupakan persembahan atau “Tribute” untuk Kusbini, tokoh legendaris keroncong pencipta lagu “Bengawan Solo”.

Dengan mengambil tema “Keroncong Jiwa Raga Kami”, berharap acara ini tak hanya menjadi pijakan perkembangan dan pelestarian musik keroncong saja, akan tetapi dapat menyuguhkan tontonan yang dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat.

Seniman multi talenta Yati Pesek, selain lihai membuat penonton tertawa siapa sangka suaranya pun oke punya. Foto: Indra
Seniman multi talenta Yati Pesek, selain lihai membuat penonton tertawa siapa sangka suaranya pun oke punya. Foto: Indra

Tak kurang dari 16 orkes keroncong menyajikan berbagai gaya dan aliran yang berbeda layaknya sebuah pasar dengan segala aktivitasnya. Hingar bingar apresiasi ini seakan mulai merambah ke kota tetangga yang malam itu turut berpartisipasi.

Beberapa penyanyi turut memeriahkan pesta keroncong malam itu, mulai penyanyi keroncong sebenarnya hingga penyanyi Ibu Kota yang sengaja bereksperimen dengan alunan irama keroncong. Sebut saja Subarjo HS, seorang penyanyi, tokoh perkeroncongan yang merupakan murid Kusbini, tak segan untuk berpartisipasi dan turut menghiasi suasana malam itu dengan suara emasnya.

Penampilan Gambang Semarang Art Company mengundang tawa penonton. Foto: Indra
Penampilan Gambang Semarang Art Company mengundang tawa penonton. Foto: Indra

Ada pula Yati Pesek, Woro (Di Atas Rata-Rata) dan Retno Handayani. Sedangkan penyanyi Ibu Kota yang malam itu sengaja bereksperimen dengan irama keroncong yaitu Oppie Andaresta dan Syaharani, dua nama dengan latar belakang musik yang berbeda namun dengan irama keroncong semua terasa sama. Tentunya tak hanya menyuguhkan pertunjukan, akan tetapi pengunjung disuguhi karya artistik agar semakin terasa bahwa Kotagede adalah ibukota Keroncong. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here