Pudarnya Lampu Semprong Seiring Cerahnya Listrik

0
1940

Saat ini, sudah tidak banyak orang yang mengenal kosa kata lampu penerang zaman dulu yang bernama lampu semprong. Setiap kali ada anak yang berkunjung ke Museum Tembi, ketika ditunjukkan koleksi lampu semprong, umumnya mereka geleng-geleng kepala, tanda tak tahu. Wajar mereka tidak tahu, karena mereka hidup di era listrik. Ketika suatu benda sudah tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, otomatis kosa kata penunjuk benda itu hilang, tidak terkecuali dengan koleksi bernama lampu semprong.

Museum Tembi Rumah Budaya, sebagai salah satu museum di Yogyakarta yang menyimpan benda koleksi lama dari masyarakat Jawa, menampilkan 2 koleksi lampu penerang tradisional, satu bernama teplok, 1 lagi bernama lampu triom. Kedua lampu menggunakan semprong, yaitu kaca tipis pengaman api agar tidak terkena hembusan angin. Satu koleksi bernama teplok, biasanya ditempelkan di dinding, satunya lagi triom model lampu gantung, digantung di tengah ruangan. Kedua koleksi ini menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar.

Lampu teplok model tempel di dinding (kanan) dan model gantung (kiri) yang disebut triom, Koleksi Museum Tembi. Foto: Suwandi
Lampu teplok model tempel di dinding (kanan) dan model gantung (kiri) yang disebut triom, Koleksi Museum Tembi. Foto: Suwandi
Lampu Semprong Teplok Model Tempel di Dinding Koleksi Museum Tembi. Foto: Suwandi
Lampu Semprong Teplok Model Tempel di Dinding Koleksi Museum Tembi. Foto: Suwandi

Redupnya lampu semprong saat ini, karena penggunaan listrik sudah menjangkau setiap pelosok di masyarakat Jawa. Di samping praktis mudah menyalakan, lebih terang, juga karena listrik lebih efisien dari sisi biaya. Sulitnya mendapatkan minyak tanah sebagai bahan bakar juga bisa menjadi akibat lampu semprong mulai ditinggalkan masyarakat Jawa. Apalagi minyak tanah sekarang harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan bensin premium atau pertalite.

Lampu semprong berbahan bakar minyak tanah sekarang memang sudah tidak beredar di masyarakat, sehingga anak-anak generasi sekarang sudah tidak mengenalnya. Kosa kata teplok dan triom mungkin sudah tidak dikenalnya. Namun bukan berarti benda koleksi itu hilang dari pasaran. Setidaknya koleksi itu bisa dijumpai kembali di museum-museum, salah satunya ada di Museum Tembi Rumah Budaya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here