Catatan dan Hasil Festival Ketoprak DIY Tahun 2016

0
577

Festival Ketoprak Antarkabupaten dan Kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlangsung mulai tanggal 24-26 November 2016 baru saja usai. Festival yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut dalam pengamatan dewan juri yang terdiri dari Suharyoso, Bambang Paningron, Dra. Sri Widati, Sarjono, dan Drs. Trustho M.Hum, menumbuhkan beberapa catatan, antara lain sebagai berikut.

Perlu apresiasi atas ketoprak yang melibatkan generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa ketoprak tumbuh dan berkembang di daerah-daerah di kalangan generasi muda. Untuk pelaksanaan lomba atau festival perlu diperhatikan juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknisnya (petunjuk teknis) secara lebih cermat sehingga tampilan ketoprak menjadi lebih maksimal.

Dewan juri Festival Ketoprak Antarkabupaten dan Kota se DIY. Foto: A. Sartono
Dewan juri Festival Ketoprak Antarkabupaten dan Kota se DIY. Foto: A. Sartono

Perlu pula penggarapan sanggit (kreasi) atas lakon-lakon yang dibawakan dengan mengacu pada kaidah-kaidah konvensi ketoprak yang sudah ada (ruh/rasa ketoprak). Boleh dan baik menggunakan kaidah-kaidah estetika modern namun sebaiknya ditransformasikan dengan idiom-idiom ketoprak supaya penonton atau apresian tidak pangling.

Berkaitan dengan hal itu dewan juri juga menyarankan kepada pemerintah agar lain waktu diselenggarakan pula festival sandiwara berbahasa Jawa. Saran ini dimunculkan mengingat kesenian sandiwara berbahasa Jawa tampaknya memang mengalami kemunduran atau jarang sekali muncul pada saat ini. Boleh dikatakan bahwa jenis kesenian ini sering kelihatan seperti “mendompleng” pada bentuk-bentuk kesenian lain, seperti ketoprak itu sendiri, teater, dan lain sebagainya.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta menyampaikan piala kejuaraan Penyaji Terbaik Festival Ketoprak Antarkabupaten dan Kota se DIY. Foto-A. Sartono
Kepala Taman Budaya Yogyakarta menyampaikan piala kejuaraan Penyaji Terbaik Festival Ketoprak Antarkabupaten dan Kota se DIY. Foto-A. Sartono

Ada cukup banyak seniman di luar Yogyakarta yang menyatakan bahwa ketoprak Yogyakarta “terlalu” berani berinovasi. Namun pada intinya pada suatu ketika orang pun akan rindu pada idiom dan konvensi tradisionalnya. Mungkin semacam kerinduan untuk pulang kampung.

Dari festival itu didapatkan beberapa pemenang (penyaji) terbaik yang secara urut disampaikan sebagai berikut. Penyaji Terbaik I Kabupaten Gunung Kidul, Penyaji Terbaik II Kabupaten Sleman, Penyaji Terbaik III Kabupaten Bantul, Penyaji Terbaik IV Kabupaten Kulon Progo, dan Penyaji Terbaik V Kota Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here