Membedah Bangunan Limasan dari Zaman ke Zaman

0
898

Satu buku tentang Rumah Limasan secara resmi diluncurkan di Tembi Rumah Budaya pada hari Sabtu malam, 26 November 2016. Buku tebal penuh ilustrasi foto dan gambar aneka macam rumah limasan yang dilacak-rekam dari berbagai relief candi di Jawa bahkan juga di luar Jawa karya Mitu M Prie ini diharapkan memberikan manfaat yang luas pada khalayak tentang esksistensi dan perjalanan konstruksi serta style rumah limasan sejak abad ke-8-9 M hingga saat ini.

Peluncuran buku berjudul Pancaran Limasan (The Brilliance of Limasan) ini juga menghadirkan tiga pembahas, yakni Revianto Budi Santoso (arsitek), Cahyo Novianto (Kajian dan Libang Arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia) dan Lono Simatupang (antropolog).

Dari kiri ke kanan: Maudy Maria, Revianto Budi Santoso, Mitu M. Prie, Cahyo Novianto, Lono Simatupang, dan N. Nuranto dalam Launching Buku Pancaran Limasan di Tembi Rumah Budaya. Foto: A. Sartono
Dari kiri ke kanan: Maudy Maria, Revianto Budi Santoso, Mitu M. Prie, Cahyo Novianto, Lono Simatupang, dan N. Nuranto dalam Launching Buku Pancaran Limasan di Tembi Rumah Budaya. Foto: A. Sartono

Mitu berkesimpulan bahwa sebelum relief yang menggambarkan tentang rumah limasan disematkan pada bangunan candi, tentunya semuanya telah melalui tahapan supervisi. Berdasarkan itu pula dapat ditelusuri bahwa model rumah limasan yang dimaksud menjadi model yang pakem. Selain itu rumah limasan merupakan bangunan yang khusus sekaligus luwes dalam bentuk dan fungsinya.

Keluwesan bentuk limasan menjadikannya bisa digunakan untuk bangunan sakral maupun profan atau bahkan perantara antara keduanya. Revianto menyatakan bahwa serambi masjid umumnya berbentuk limasan dan bukan tajug. Bentuk bangunan yang demikian itu ditengarai “dibedhol” dari sebuah bangunan yang digunakan untuk balai pertemuan di Kerajaan Majapahit. Pada sisi ini bangunan limasan menjadi bagian dari bangunan sakral (suci) namun fungsi dan kedudukannya lebih profan. Ia menempel pada bangunan suci (tajug) namun sesungguhnya kesatuannya tidak menjadi homogen. Pada perjalanan sejarahnya banyak bangunan serambi masjid yang bentuknya limasan. Di serambi inilah hal-hal yang profan bisa diperbincangkan (musyawarah) sementara pada bangunan sucinya (tajug) hal itu menjadi semacam tabu atau larangan.

Direktur Utama Tembi Rumah Budaya N. Nuranto menerima penyerahan buku dari Mitu M. Prie dalam Launching Buku Pancaran Limasan di Tembi Rumah Budaya. Foto: A. Barata.
Direktur Utama Tembi Rumah Budaya N. Nuranto menerima penyerahan buku dari Mitu M. Prie dalam Launching Buku Pancaran Limasan. Foto: A. Barata.

Istilah limasan sering menimbulkan pengertian yang keliru karena orang umumnya menganggap bahwa rumah limasan adalah rumah yang bentuk atapnya seperti bangun limas. Padahal barangkali istilah “limas” sendiri tidak dikenal dalam khasanah budaya Jawa.

Sementara pendapat menyatakan bahwa istilah limas berasal dari kata limalasan yang mengacu pada pengertian hitungan, ukuran, dan rumusan tertentu dalam membangun kerangka atap bangunan sekaligus sebagai simbol dari “sedulur papat lima pancer” yang menggambarkan tentang kosmologi Jawa.

Pendapat lain lagi menyatakan bahwa kemungkinan istilah ini berasal dari istilah “gajahan”, yakni bentuk konstruksi sisi atas dari kerangka atap yang disangga 4-6 buah tiang. Gajah dalam bahasa Jawa sering dikramakan (dibahasahaluskan) menjadi liman. Liman yang dirangkapkan disebut limansap. Istilah liman sap inilah yang mungkin dijadikan istilah menjadi limasan.

Bentuk bangunan limasan dalam sebuah relief candi. Foto: A. Barata
Bentuk bangunan limasan dalam sebuah relief candi. Foto: A. Barata

Limas dalam pandangan Mitu menjadi demikan menarik karena dalam pemunculannya di abad ke-8-9 M masih terus dipakai, digunakan, dan dikembangkan hingga abad ke-21 ini. Bahkan pada zaman penjajahan Belanda mereka pun suka membangun rumah dengan gaya ini karena dipandang nyaman, ventilasi maksimal, lega, sekaligus luwes dan bisa menyesuaikan ukuran ruang.

Buku karya Mitu menjadi menarik karena jejakrekamnya yang lengkap atas bangunan limasan dalam rentang perjalanan waktu setidaknya dari abad ke-8 sampai ke-21. Berbeda dengan joglo, tajug, dan kampung yang relatif tidak luwes baik dari sisi peruntukan dan ukuran. Buku ini tidak saja menjadi penting bagi dunia arsitektur, namun juga sekaligus bagi dunia arkeologi, sejarah, antropologi, dan sosial. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here