Puncak Merti Kali Ditutup dengan Pentas Ketoprak Komedi

0
522

Bertemakan Pengembangan Kearifan Lokal Lingkungan Hidup dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY melakukan kegiatan Merti Kali yang diawali tahun 2015. Merti Kali itu dilakukan terhadap tiga buah sungai prioritas yang melewati wilayah perkotaan Yogyakarta yakni Sungai Winongo, Sungai Code, dan Sungai Gajah Wong.

Kegiatan tersebut dilanjutkan pada tahun 2016 dengan sasaran tambahan, yakni Sungai Kuning (bagian timur) dan Sungai Bedog (bagian barat). Dalam kegiatan Merti Kali ini BLH bekerja sama dengan forum atau kelompok penggiat sungai, yaitu Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA), Forum Pemerti Code, Forsidas Gajah Wong, Forum Payung Hijau, dan Forum Peduli Kali Kuning.

Kegiatan bersih kali sebagai bagian dari Merti Kali yang dilakukan oleh komunitas pemerhati kali dan masyarakat. Foto: A. Sartono
Kegiatan bersih kali sebagai bagian dari Merti Kali yang dilakukan oleh komunitas pemerhati kali dan masyarakat. Foto: A. Sartono

Kegiatan Merti Kali diawali dengan sosialisasi langsung kepada masyarakat sekitar sungai disertai publikasi melalui media cetak dan elektronik, yang dilanjutkan dengan kegiatan membersihkan sungai dengan cara padat karya dan gotong royong.

Kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali sifat guyub dan rasa memiliki terhadap sungai yang selama ini semakin mengalami penurunan kualitas air dan lingkungan pendukungnya. Diharapkan pula kegiatan ini dapat mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini menganggap sungai sebagai tempat sampah atau bahkan tempat pembuangan akhir.

Puncak sekaligus penutupan Merti Kali 2016 diwujudkan dalam pertunjukan seni budaya di Lapangan Winongo, Dusun Glondong, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul pada Jumat malam, 18 November 2016 dengan menyuguhkan ketoprak komedi yang membawakan lakon Menakjinggo Merti Kali.

Pada intinya lakon tersebut mengisahkan tentang Adipati Menakjinggo yang melarang semua warganya untuk membuat MCK dan tempat sampah. Ia memerintahkan semua sampah dan kotoran harus dibuang di sungai. Orang juga harus melakukan kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK) di sungai. Perintah dari Majapahit untuk menata lingkungan Kadipaten Blambangan diabaikan oleh Menakjinggo. Akhirnya Damarwulan diutus untuk menertibkannya. Setelah perang dan Menakjinggo kalah, Menakjinggo pun tunduk pada perintah untuk hidup bersih, tertib, dan disiplin.

Ketoprak komedi yang sejak awal pertunjukan sudah mengocol perut semua penonton ini dimainkan oleh grup Angkringan TVRI Yogyakarta dengan pemain Menakjinggo (Drs. Susilo Nugroho/Den Baguse Ngarso), Damarwulan (Wiji Adritama/Prawiro), Sabdo Palon (Stefanus Prigel/Dalijo), Nayagenggong (Ari Purnomo/Sentul Kenyut), Anjasmara (Herdina Anna Lutfiani/Trinil), Waito (Yuningsih/Yu Beruk), Puyengan (Rini Widyastuti), Dayun (Rio Pujangkoro/Srundeng), Nyai Dayun (Theresia Wulandari/Yu Sothil), dan Pamengger (M.Sugiyarto/Ngadino). (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here