Upacara Sembelih Sepasang Pengantin di Gunung Gamping

0
681

Pada suatu ketika Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto dinyatakan hilang di Gunung Gamping Ambarketawang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hilangnya kedua abdi dalem Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792) ini dipercaya karena diganggu penunggu gaib Gunung Gamping yang ditambang oleh mereka untuk keperluan pembangunan Keraton Yogyakarta di Hutan Beringan.

Sepasang Bekakak dalam jodhang (tandu) diarak menuju Gunung Gamping. Foto: A. Sartono
Sepasang Bekakak dalam jodhang (tandu) diarak menuju Gunung Gamping. Foto: A. Sartono

Hilangnya dua abdi dalem ini membuat hati Sultan Hamengku Buwana I berduka. Ia kemudian bersemadi di sekitar Gunung Gamping. Dalam semadinya ia berhasil berdialog dengan penunggu gaib Gunung Gamping. Pada intinya penunggu gaib Gunung Gamping memperbolehkan gunung gamping ditambang kapurnya asalkan ada persembahan berupa bekakak sepasang pengantin (sepasang pengantin yang disembelih) di Gunung Gamping.

Sultan Hamengku Buwana I kemudian berikhtiar membuat sepasang pengantin dari ketan yang diisi juruh (air gula). Sepasang pengantin ini diarak dan disembelih di Gunung Gamping. Ketika disembelih itu dari leher bekakak pengantin keluarlah juruh berwarna merah menyerupai warna darah. Berawal dari itulah Upacara Saparan Bekakak di Gunung Gamping dimulai sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa Kyai dan Nyai Wirosuto.

Sepasang Bekakak yang akan disembelih di Gunung Gamping. Foto: A. Sartono
Sepasang Bekakak yang akan disembelih di Gunung Gamping. Foto: A. Sartono

Untuk tahun 2016 ini acara Saparan Bekakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 18 November. Upacara adat ini diawali dengan arak-arakan Ogoh-ogoh dan 37 kelompok yang terdiri dari prajurit bregada dan kelompok-kelompok kesenian. Atraksi semacam ini selalu menjadi tontonan menarik yang ditunggu masyarakat. Pada sisi ini dapat dilihat bahwa sebenarnya ada rasa kerinduan untuk saling berjumpa, bergembira, berekspresi, saling memperhatikan, dan mengenang sesuatu.

Ubarampe gunungan pendamping sepasang Bekakak dalam Saparan Bekakak Ambarketawang, Gamping, Sleman. Foto: A. Sartono
Ubarampe gunungan pendamping sepasang Bekakak dalam Saparan Bekakak Ambarketawang, Gamping, Sleman. Foto: A. Sartono

Upacara adat yang dihadiri oleh ribuan orang ini tidak urung memacetkan arus lalu lintas di Jl Wates, ring road Gamping, dan jalan-jalan di sekitarnya. Orang yang ingin menyaksikan acara ini umumnya sudah mulai menyemut di lapangan Ambarketawang, Gamping dan lokasi Gunung Gamping sejak pukul 13.00 WIB. Sekalipun suasana mendung dan kemudian hujan, orang yang ingin menyaksikan acara tersebut sepertinya enggan beranjak.

Bekakak pria sedang disembelih. Foto: A. Sartono
Bekakak pria sedang disembelih. Foto: A. Sartono

Ketika sepasang pengantin bekakak sampai di lokasi, yakni kompleks Gunung Gamping, orang pun mulai berdesakan untuk dapat menyaksikan bagaimana proses penyembelihan bekakak dilakukan. Selain itu, mereka juga menantikan untuk dapat beroleh sesuatu dari gunungan yang dikirab.

Acara Upacara Adat Saparan Bekakak Gunung Gamping di Ambarketawang ini merupakan agenda budaya tahunan oleh Dinas Pariwisata DIY. Diharapkan upacara ini tetap terus berlangsung di tahun-tahun berikutnya tanpa meninggalkan esensi sejarah budayanya. Diharapkan pula acara ini semakin dikenal oleh wisatawan lokal, nasional, maupun internasional. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here