Disambar Petir Sate Pak Nano

0
683

Di Yogyakarta makanan pedas bisa menjadi andalan. Istilah oseng mercon, gudeg mercon ataupun embel-embel sambal dan pedas sering menjadi daya tarik. Untuk kuliner sate, ada satu warung yang identik dengan pedas, yakni warung sate petir pak Nano. Istilah petir sudah mencerminkan nuansa pedas itu.

Pilihan tingkatan pedas sate pak Nano sungguh memanjakan para penikmat pedas. Pak Nano dan istrinya, Bu Marmi, membagi tingkat pedas dalam beberapa tingkat yang dianalogikan dengan strata pendidikan. Pembeli yang datang akan ditanyakan apakah pesanannya pedas atau tidak. Kalau memilih pedas, tingkatan yang lazim adalah tingkat SD, yakni diberi 4 cabe.

Seporsi sate petir pak Nano siap menyambar lidah. Foto: Barata
Seporsi sate petir pak Nano siap menyambar lidah. Foto: Barata

Sedangkan tingkat SMP 6-7 cabe, SMA 10 cabe, S1 15 cabe, dan profesor 20 cabe. Di atas itu ternyata ada lagi walaupun sangat tidak lazim. Salah seorang pelanggan asal Jepara yang tinggal di Yogyakarta selalu meminta 50 cabe saat memesan tongseng. Pesanan itu selalu disantap habis. Pesohor Deddy Corbuzier malah pernah memesan 100 cabe untuk seporsi tongseng. “Tapi saya tidak tahu itu trik atau tidak,” kata bu Marmi. Maklumlah, Deddy adalah seorang ilusionis handal.

Pak Nano dan bu Marmi tidak mengenakan biaya tambahan untuk tambahan cabe yang terkesan tidak lumrah ini. “Kecuali kalau harga cabe sedang mahal, saya bilang ke pembeli kalau harganya berbeda,” kata bu Marmi. Yang dimaksud cabe mahal adalah saat harga cabe meroket tinggi yang mengundang decak keheranan.

Harga sate seporsi Rp 20.000, ditambah sepaket minuman dan nasi Rp 5.000. Tongseng juga dibandrol Rp 20.000. Sedangkan lidah Rp 50.000 (bisa untuk 2 orang), dan kepala Rp 40.000 (juga bisa 2 orang). Ada pula menu nasi goreng kambing seharga Rp 25.000.

Warung sate petir pak Nano. Foto: Barata
Warung sate petir pak Nano. Foto: Barata

Bagi yang tidak suka pedas, sate pak Nano tetap layak jadi pilihan. Daging kambingnya empuk dengan rasa bumbu yang pas khas lidah Jawa, yakni perpaduan bawang, ketumbar, gula jawa ditambah kecap.

Rasa pedas sebagai brand sate pak Nano tidak dimulai sejak awal. Bu Marmi berkisah, mulanya warung sate pak Nano dibuka di Taman Sari pada tahun 1983. Harga tongseng saat itu, kenang bu Marmi, masih Rp 2.000, sedangkan minuman dan nasi Rp 500. Saat itu nama warungnya belum diembeli ‘petir’ walaupun cita rasa pedas sudah mulai mewarnai satenya.

Selain berjualan sate pak Nano juga membuat sandal dan menyungging wayang. Dari sebagian penghasilan yang dikumpulkan, pada tahun 1990 keluarga pak Nano kemudian membeli tanah di jalan ring road selatan, di sebelah barat perempatan Druwo. Lama kemudian, pada tahun 2002, mereka mulai membangun rumah di sana, yang selesai pada tahun 2004. Warung sate pun pindah ke rumah baru ini. Dua puluh satu tahun kemudian sejak rintisan awal di Taman Sari pada tahun 1983. Tiga puluh tiga tahun sampai tahun ini. Sungguh perjuangan yang luar biasa.

Kini pak Nano, yang bernama asli Sutiarno, berusia 69 tahun, dan bu Marmi 66 tahun. Keempat anaknya sudah mentas semua. Anak yang kedua dan ketiga masing-masing menyelesaikan pendidikan strata satu di Geologi Universitas Pembangunan Nasional, dan Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Anak bungsunya lulus program D3 jurusan boga Akademi Kesejahteraan Sosial Tarakanita, Yogyakarta. Sedangkan putri sulungnya tamat SMA dan sudah menikah.

Bu Marmi, istri pak Nano, bersama-sama berusaha sejak awal. Foto: Barata
Bu Marmi, istri pak Nano, bersama-sama berusaha sejak awal. Foto: Barata

Pak Nano sendiri lulusan SMA, sedangkan bu Marmi lulusan SMEA. Dengan latar pendidikan ekonomi ini, bu Marmi mengaku tidak pernah memakai kalkulator saat menghitung pesanan pembeli. Filosofi hidup mereka adalah kerja keras, tidak menyakiti orang lain, jujur, dan selalu percaya kepada Tuhan. Bu Marmi juga berkisah pernah ditawari ajian penglaris tapi ditolaknya. “Yang penting, selalu bersyukur,” katanya. “Sedikit disyukuri, banyak disyukuri.”

Warung sate ini sekarang masih dipegang pak Nano dan bu Marmi. Namun menurut bu Marmi, anak-anaknya sudah dibekali keahlian membuat sate. Pak Nano sendiri, kata bu Marmi, mendapat keahlian dari ayahnya, pak Kamso, yang juga mendapatkan dari ayahnya. Jadi sampai ke pak Nano, sedikitnya sudah tiga generasi.

Warung sate petir pak Nano buka pada pukul 12.00, dan tutup biasanya kalau persediaan sudah habis, antara pukul 17.00-19.00. Satu hari warung ini, kata bu Marmi, biasanya menghabiskan 60 porsi.

Warung ini terletak di jalan Jogja Ring Road Selatan No.90, Dusun Menayu, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Di sisi selatan jalan. Jarang tampak sepi pembeli, namanya memang banyak dikenal di kalangan penggemar sate atau penggemar kuliner pedas. Dua foto pakar kuliner Bondan Winarno terpajang di dinding warung saat berkunjung ke sana. Pada akhir Agustus lalu, warung ini juga diundang untuk tampil pada Festival Kecap Bango di Jakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR