Mahasiswa Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya Mengamati Rumah Jawa

0
532

Titik pusat perhatian pengunjung di Tembi Rumah Budaya bisa berbeda-beda antara pengunjung yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan minat dan tujuannya masing-masing. Mahasiswa-mahasiswi Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya, misalnya, lebih memfokus pada rumah tradisional Jawa. Mereka 12 November 2016 berkunjung ke Tembi agar dapat melihat, meraba, dan merasakan langsung hal-ihwal yang berhubungan dengan gaya, ruang, denah, ornamen, tipologi, letak, dan eksistensi rumah tradisional Jawa dalam kaitannya dengan kehidupan modern seperti zaman sekarang dan ke depan.

Denah rumah Jawa yang biasanya diterapkan pada rumah-rumah bangsawan Jawa menjadi perhatian besar bagi para mahasiswa tersebut ketika pemandu menerangkan hal itu. Mereka merasa bahwa ternyata masyarakat Jawa telah begitu memikirkan bahkan memperhitungkan bagaimana membagi ruang-ruang dalam bangunan rumahnya sesuai dengan fungsi dan filosofinya. Peletakan denah dan ruang tidak asal-asalan sesuai dengan ketersediaan lahan belaka. Ada makna filosofi yang dikandunginya. Juga tentang peletakan atau pembuatan ornamen untuk rumah tersebut.

Beberapa mahasiswi Universitas Ciputra berfoto di Belik Tembi. Foto: Indra WH
Beberapa mahasiswi Universitas Ciputra berfoto di Belik Tembi. Foto: Indra WH

Koleksi museum Tembi juga bukan hanya benda mati, namun juga ada koleksi yang “hidup” dan bisa difungsikan setiap saat, misalnya Bale Inap Tembi, berupa museum rumah tradisional Jawa namun bisa ditinggali dengan cara disewa. Untuk kenyamanan orang yang menginap, maka fasilitas yang ada di dalamnya memang dibuat seperti hotel berbintang seperti AC, water heater, dan lainnya.

Aneka kegiatan kebudayaan yang ada dan diselengarakan Tembi secara periodik juga memikat perhatian mereka. Mereka merasa bahwa lembaga kebudayaan seperti Tembi terlihat demikian hidup dan dinamis dalam hidup dan menghidupi kebudayaan itu sendiri. Beberapa titik di Tembi pada gilirannya mengikat mereka untuk berlama-lama menikmati misalnya Belik Tembi. Mereka berlama-lama di belik atau kolam ini karena menikmati suasananya. Demikian pula ketika mereka berada di dalam museum. Mereka pun berlama-lama di titik itu karena ingin menyerap semua informasi mengenai benda koleksi dan latar belakang sosial historisnya.

Mahasiswa-mahasiswi Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya di Tembi. Foto: Indra WH
Mahasiswa-mahasiswi Arsitektur Universitas Ciputra Surabaya di Tembi. Foto: Indra WH

Piano baru yang sengaja ditempatkan di ruang museum ternyata juga mengikat salah satu mahasiswi dari Universitas Ciputra karena ia memang jago bermain piano. Pada titik ini ia merasa mendapatan atau dipertemukan dengan dunia yang begitu digandrunginya. Alhasil ia pun kemudian bermain piano di Museum Tembi dengan penuh penghayatan dan keterampilan yang juga sangat dinikmati oleh kawan-kawannya. Kesenangan belajar di luar ruang dengan kemanfaatan yang riil barangkali memang dipetik oleh mereka, entah dalam skala besar ataupun skala kecil. SetidaknyaTembi cukup memberi inspirasi bagi mereka untuk menguasai ilmu arsitektur pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya.

Ketekunan mahasiswa Universitas Ciputra mewarnai gerabah. Foto: Indra WH
Ketekunan mahasiswa Universitas Ciputra mewarnai gerabah. Foto: Indra WH

Kegembiraan dan kesan mereka atas Tembi sebagai lembaga budaya makin terpatri dengan kegiatan mereka di akhir kunjungan dengan aktivitas melukis gerabah. Gerabah hasil karya mereka masing-masing menjadi suvenir bagi diri mereka masing-masing yang akan mengingatkan mereka pada Tembi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here