Perang Kemerdekaan 1945 – 1950 di Mata Tentara Belanda

0
2086

Kenangan terhadap perang selalu membangkitkan “emosi” tersendiri bagi yang mengalami, entah dia pelaku utama (tentara atau prajurit) ataupun yang kena imbasnya (masyarakat sipil). Demikian juga dengan perang yang terjadi di Indonesia tahun 1945-1950 antara Indonesia dengan Belanda.

Sumber utama buku ini adalah kesaksian para veteran perang Belanda yang berusaha merekam dan mewariskan ingatannya melalui buku catatan harian, surat menyurat dengan keluarga dan kolega, memoar biografi dan rekaman wawancara. Mereka pada umumnya adalah bekas tentara wajib militer, bukan militer profesional yang masuk militer atas keinginan sendiri.

Mereka ikut berperang karena dipaksa oleh kewajiban, terbujuk propaganda perintah bahkan ancaman dari negara. Perang yang tidak dimenangkan oleh pihak Belanda dan sesudahnya justru mereka dianggap “bersalah.” Sehingga tidak mengherankan apabila mereka memiliki ingatan dan penilaian yang berbeda dengan kelompok tentara lainnya. Sumber ini memang tidak bisa mewakili pandangan semua veteran Belanda secara keseluruhan, tetapi membantu memberikan informasi alternatif apa yang terjadi di lapangan.

Selama perang tersebut Belanda total mengerahkan 220.000 orang tentara, yang terdiri dari 160.000 orang Belanda, 60.000 ribu sisanya adalah tentara Koniklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) rekrutan lokal dari Ambon, Minahasa, Jawa dan daerah lainnya. Dari 160.000 tentara Belanda tersebut sekitar 100.000 orang merupakan wajib militer, 50.000 orang sukarelawan dan hanya sekitar 1.000 orang tentara profesional.

Tentara wajib militer dan sukarelawan ini kebanyakan masih muda dengan usia berkisar 20 tahun, sebagian belum pernah memperoleh pelatihan militer dan bepergian jauh dari tempat tinggalnya. Mereka hanya mempunyai pengetahuan yang minim tentang Indonesia baik masyarakat dan budayanya, maupun kondisi geografisnya. Kebanyakan tertarik propaganda pemerintahnya (Belanda) bahwa tujuan mereka ke “Hindia Belanda” adalah untuk membebaskan dari fasisme Jepang, menegakkan keamanan dan ketertiban dan melindungi penduduknya dari “pengacau”. Mereka tidak memiliki bayangan akan menghadapi perlawanan sengit dari pemuda, pejuang dan tentara Indonesia, lebih-lebih dengan perang gerilya. Kondisi ini tentu saja berpengaruh besar terhadap apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan di medan perang, dan pendapat mereka tentang Indonesia.

Kejahatan perang (yang dilakukan tentara Belanda sendiri) adalah salah satu yang mereka tulis, tentu saja menurut sudut pandang mereka. Kejahatan perang itu seringkali sangat mengejutkan. Tidak hanya penjarahan terhadap harta benda, juga pembunuhan terhadap warga sipil yang didahului dengan penyiksaaan, atau kejahatan seksual yang sangat kejam. Tema-tema lain adalah ketegangan antara misi Belanda dan realita di tempat yang sulit dikendalikan, pandangan terhadap sesama tentara Belanda, sikap dan pendapat tentang perjuangan bangsa Indonesia, rasa frustasi terhadap pimpinan militer dan politik, ketakutan, rasa dendam, malu, kebosanan, masalah seks, keterasingan, kemarahan dan juga trauma perang.

  • Serdadu Belanda di IndonesiaJudul:
    Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950. Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah Yang Salah
  • Penulis:
    Gert Oostindie
  • Penerbit:
    Yayasan Pustaka Obor + KITLV, 2016, Jakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    xxvi + 371

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here