Mahasiswa STIPAR Bandung Membajak Sawah

0
587

Sebanyak 27 mahasiswa-mahasiswi Jurusan Perjalanan dari Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata (STIPAR) Bandung pada Selasa, 25 Oktober 2016 berkunjung ke Tembi Rumah Budaya. Mereka berniat menimba informasi mengenai kebudayaan juga mengambil paket wisata budaya yakni membajak sawah dan menanam padi. Tembi pun membuka diri selebar-lebarnya untuk menjawab keingintahuan mereka.

Seorang mahasiswa STIPAR Bandung merasakan pengalaman naik bajak sawah yang ditarik kerbau. Foto: A. Barata
Seorang mahasiswa STIPAR Bandung merasakan pengalaman naik bajak sawah yang ditarik kerbau. Foto: A. Barata

“Mengapa kami yang berada di Pulau Jawa meskipun di Jawa Barat, tidak disebut berkebudayaan Jawa Pak ?” tanya salah satu mahasiswa. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang panjang lebar. Pemandu pun menerangkan perbedaan kebudayaan Sunda yang menjadi latar kebudayaan mereka dan sekaligus kebudayaan Jawa yang menjadi latar belakang kebudayaan Tembi. Di situ pula dijelaskan bahwa di Jawa ada ragam-ragam kebudayaan Jawa dengan varian bahasa yang berdialek berbeda antara satu dengan yang lainnya.

“Mengapa lembaga ini dinamakan Tembi Pak dan mengapa nama itu dipakai ?” tanya seorang mahasiswi. “Jika ini lembaga swasta bagaimana cara pengelolaan sistem keuangannya Pak. Bagaimana dana itu didapatkan untuk biaya operasionalnya ?”

Mereka berteduh di gubuk Tembi menunggu giliran naik bajak. Foto: A. Barata
Mereka berteduh di gubuk Tembi menunggu giliran naik bajak. Foto: A. Barata

Pertanyaan mahasiswa tersebut juga membutuhkan penjelasan panjang lebar. Bagi mereka lembaga budaya swasta umumnya memang tidak mudah untuk hidup mandiri dalam rentang waktu yang lama jika tidak ada support dana dari pihak lain. Itulah tantangan yang sama yang harus dihadapi Tembi dengan segala daya upayanya.

Usai dialog atau tanya jawab mereka pun diajak berkeliling kompleks Tembi. Sekian banyak koleksi museum Tembi membuat mereka juga bertanya-tanya tentang asal-usul koleksi, apa gunanya, bagaimana dulu masyarakat Jawa menggunakannya. Mereka tertarik dengan Bale Inap yang ada di Tembi yang sesungguhnya juga merupakan koleksi museum berwujud rumah tradisional Jawa berdinding gebyog dan memiliki atap berbentuk limasan.

“Wah tahu begitu kita harusnya menginap di sini saja Pak. Suasanya berbeda, lokal banget. Asri, adem. Dapet makan tiga kali pula,” ujar seorang mahasiswa kepada dosen pembimbing mereka. “Yah, kita tahu informasinya baru sekarang, mau bagaimana lagi,” jawab dosen pembimbing mereka.

Mahasiswa-mahasiswi STIPAR Bandung merasakan pengalaman menanam padi di sawah saat berkunjung ke Tembi. Foto: A. Barata
Mahasiswa-mahasiswi STIPAR Bandung merasakan pengalaman menanam padi di sawah saat berkunjung ke Tembi. Foto: A. Barata

Puas berkunjung dan berkeliling mereka pun mulai naik bajak yang ditarik sepasang kerbau dan menanam padi di sawah. Dua paket wisata budaya itu sungguh merupakan pengalaman baru bagi mereka. Sebab sebelumnya mereka memang belum pernah mengalaminya langsung. Ketakutan, kecemasan, kekhawatiran tampak membayang di wajah-wajah mereka. Bahkan ketika kerbau mulai berjalan menarik bajak yang mereka tumpangi kebanyakan dari mereka menjerit takut.

Kunjungan dan wisata budaya mereka di Tembi ini pasti akan menjadi tambahan referensi yang memberikan manfaat bagi keilmuan mereka. Kekayaan pengalaman, pengetahuan, dan informasi yang mereka dapatkan kelak menjadi deret referensi bagi kekaryaan mereka di dunia kerja. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here