Merti Kampung Surocolo Menuju Kampung Wisata

0
1049

Merti dusun, merti bumi, merti desa menjadi hal yang lazim di Jawa. Kegiatan ini merupakan ungkapan syukur, doa dan permohonan, serta berbagi kepada sesama. Demikian pula halnya dengan Merti Bumi Kampung Surocolo yang berlangsung Rabu siang, 12 Oktober 2016.

Gunungan yang dikirab dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono
Gunungan yang dikirab dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono

Merti dusun Kampung Surocolo ini mengambil tema “Guyub Rukun Makarya Mbangun Desa Kanggo Wisata”. Kampung ini terletak di atas bukit di wilayah Seloharjo, Pundong, Bantul. Kampung ini disangga oleh dua pedukuhan yakni Pedukuhan Poyahan dan Pedukuhan Ngreco. Kampung ini memiliki beberapa situs, antara lain Gua Jepang, Gua dan Sendang Suracala/Sunan Mas, dan Gua Sigolo-golo. Kawasan itulah yang akan dikembangkan sebagai titik utama destinasi wisata di samping potensi kesenian, adat, dan kuliner khas di wilayah ini.

Tari Rampak Buto dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono
Tari Rampak Buto dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono

Lokasi untuk Merti Bumi Kampung Surocolo ini menjadi unik karena panggung dibuat di antara pohon bulu raksasa dan pohon randu alas raksasa dengan setting bukit yang menjulang. Sementara di depan panggung terdapat Sendang Lanang dan Sendang Wadon yang menjadi muara dari aliran air jernih dari celah-celah bukit yang disalurkan dan ditumpahkan melalui mulut Jaladwara. Jaladwara atau talang air dari batu yang dibuat pada kisaran abad 9-10 M ini merupakan bagian dari Benda Cagar Budaya yang diadaptasikan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan sekarang.

Merti Bumi Kampung Surocolo yang dihadiri oleh para pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul, Muspika, pejabat desa, tokoh desa, Pokdarwis, UKM, Karang Taruna, dan masyarakat umum ini menampilkan beberapa mata acara, seperti Tari Rampak Buto, Jatilan Turangga Yaksa, Kirab Gunungan yang dikawal bregada, dan perebutan gunungan.

“Di Bantul ada 930 pedukuhan dan 74 desa dan baru ada 9 desa budaya dan 6 desa yang ditetapkan sebagai desa budaya. Desa/Kelurahan Seloharjo merupakan desa budaya. Surocolo berada di wilayah desa ini. Dengan Surocolo menjadi desa wisata harapannya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan sekitarnya,” kata Riswanta SIP yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul dalam sambutan yang disampaikannya di tengah-tengah acara Merti Bumi Kampung Surocolo 2016 ini.

Aneka makanan yang ikut dikirab dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono
Aneka makanan yang ikut dikirab dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono
Bregada Kampung Surocolo dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono
Bregada Kampung Surocolo dalam acara Merti Bumi Kampung Surocolo Pundong. Foto: A. Sartono

Sementara itu pihak panitia menyampaikan bahwa nyadran atau merti dusun di Surocolo ini ditengarai sudah dilakukan sejak tahun 1819. Merti bumi atau merti dusun semacam ini pada galibnya adalah memule (memelihara/ merawat/ menjaga) leluhur. Mule apa yang ada di atas dan di dalam bumi, memule langit seisinya, memule tanah pekarangan masing-masing, memule tanah miliknya masing-masing.

Apa yang dilakukan di Kampung Surocolo itu di samping untuk memule hal-hal yang tersebut juga ditujukan untuk semakin menghidupkan dan menghidupi Surocolo sebagai kampung wisata. Untuk itu Pokdarwis di tempat ini juga telah terbentuk. Sejauh diamati kuliner di tempat ini memang tampil sebagai kuliner unik yakni kelapa muda kepras, gadung goreng, uwi (bukan ubi) rebus, talas rebus, pisang ambon, singkong rebus. Jenis-jenis makanan itu menjadi potensi setempat yang tentu bisa digarap lebih lanjut. View, situs bersejarah, kesenian, tracking, dan kuliner di wilayah ini memang sebenarnya menjanjikan untuk “dijual.” (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here