Serat Centhini Menjadi Tema Utama BWCF

0
590

“Setelah 200 Tahun Serat Centhini: Erotisme & Religiusitas, Dalam Kitab-kitab Nusantara” tema tersebut diangkat dalam acara tahunan “Borobudur Writers and Cultural Festival” (BWCF). Acara berlangsung pada tanggal 5-8 Oktober 2016. Berbagai kegiatan digelar seperti seminar, seni pertunjukan, pameran foto, pameran lukisan, workshop cerpen dan musyawarah penulis.

Acara yang dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ini melibatkan tak kurang dari 300 peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang, seperti ; budayawan, akademisi, pakar sejarah, sastrawan, arkeolog, rohaniwan, penulis buku, dalang, dll. Setelah pembukaan yang berlangsung pada hari Rabu, 5 Oktober 2016, Ganjar Pranowo berkesempatan melihat beberapa lukisan yang telah terpajang rapi tak jauh dari podium.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerima kenang-kenangan usai meresmikan acara Borobudur Writers & Cultural Festival 2016. Foto: Indra
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerima kenang-kenangan usai meresmikan acara Borobudur Writers & Cultural Festival 2016. Foto: Indra

Pada pembukaan BWJF 2016 yang bertempat di Hotel Atria, Magelang, Jawa Tengah ini turut pula menghadirkan budayawan sekaligus sutradara kondang Garin Nugroho. Ia memaparkan beberapa cerita yang tertulis dalam Serat Centhini saat pidato kebudayaan atau yang lebih sering disebutnya ‘dongeng kebudayaan.’

Dalam dongengnya, sang sutradara mengatakan keistimewaan Serat Centhini itu dapat dikembangkan, dinyanyikan sekaligus ditafsirkan dengan cara apa pun. Di dalamnya terdapat sejarah panjang negeri ini dan Serat Centhini lahir pada saat bangsa ini mengalami proses perubahan.

Perang Napoleon merupakan salah satu momen penting dalam kisah Serat Centhini. Centhini merupakan sebuah kitab ketika zaman sedang berubah, ketika apa yang disebut nilai-nilai baru itu muncul, sekaligus adalah bacaan dan peta besar dari sebuah perubahan yang harus kita ketahui.

Garin Nugroho memaparkan tentang Serat Centhini dalam pidato kebudayaan dalam acara BWCF. Foto: Indra
Garin Nugroho memaparkan tentang Serat Centhini dalam pidato kebudayaan dalam acara BWCF. Foto: Indra

Membaca Serat Centhini, kata Garin, sama dengan membaca sejarah tentang keadilan, agama, politik, sastra dan kenusantaraan. Dengan kata lain Serat Cenhini merupakan sebuah ensiklopedi besar, di balik itu semua diterangkan tentang kehidupan panjang manusia Jawa itu sendiri.

Sungguh sebuah ‘dongeng’ yang menarik, bagai pemuka agama, dengan menggebu-gebu ia bercerita dan sesekali tak lupa ia sisipkan canda dan selingan musik agar suasana lebih santai.

Tak kalah dengan pidato kebudyaan oleh Garin Nugroho, acara yang digelar oleh Samana Foundation ini turut pula menampilkan beberapa kesenian, antara lain ; tari tradisi Boyolali, penampilan grup musik Rangkaian Bunga Kopi dan Tari 1000 topeng oleh seniman Sujopo Sumarah Purbo.

Pertunjukan musik dan pembacaan puisi oleh Rangkaian Bunga Kopi dalam acara BWCF. Foto: Indra
Pertunjukan musik dan pembacaan puisi oleh Rangkaian Bunga Kopi dalam acara BWCF. Foto: Indra

BWCF 2016 kali ini digelar di beberapa tempat di Magelang dan Yogyakarta, yaitu di The Heritage, Convention Center, Hotel Plataran, Borobudur; Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Ngablak, Gunung Andong, Magelang; Hotel Atria, Magelang; SMA Seminari Mertoyudan, Magelang; dan di Pendopo Ndalem Ageng Pesanggrahan, Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta. Acara pembukaan malam itu diikuti dengan peluncuran buku “Syair Tambangraras” yang sekaligus diulas oleh Romo Budi Subanar. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here