Nguras Enceh Salah Satu Upacara Adat yang Ditunggu Masyarakat

0
718

Seperti tahun-tahun yang lalu, Upacara Hajad Dalem Nguras Enceh/Kong di depan makam Sultan Agung Hanyakrakusuma, Pajimatan Imogiri, Bantul dilaksanakan pada Jumat Kliwon bulan Suro yang pada tahun ini bertepatan pada tanggal 7 Oktober 2016.

Abdi dalem jurukunci Kasultanan Yogyakarta tengah menyiapkan air di salah satu enceh dalam Upacara Adat Nguras Enceh di Pajimatan Imogiri. Foto: Sartono
Abdi dalem jurukunci Kasultanan Yogyakarta tengah menyiapkan air di salah satu enceh dalam Upacara Adat Nguras Enceh di Pajimatan Imogiri. Foto: Sartono

Upacara Nguras Enceh ini dilaksanakan mulai pukul 08.00 dengan melakukan serangkaian doa (tahlilan) di Masjid Pajimatan Imogiri, dilanjutkan pelantunan doa di pendapa yang difungsikan untuk jaga abdi dalem Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta. Masjid itu berada di halaman makam Sultan Agung.

Sebelum acara dimulai pendapa tersebut telah penuh sesak oleh pengunjung yang hendak ngalab (mendapatkan) berkah dari air yang berasal dari enceh-enceh (gentong) tersebut. Gentong adalah tempat air berbentuk seperti guci yang besar. Pihak panitia telah menyiapkan pula 8 gentong besar lain untuk mengisi gentong-gentong pusaka guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Abdi dalem jurukunci Kasunanan Surakarta tengah melantunkan doa di depan salah satu enceh dalam Upacara Adat Nguras Enceh di Pajimatan Imogiri. Foto: Sartono
Abdi dalem jurukunci Kasunanan Surakarta tengah melantunkan doa di depan salah satu enceh dalam Upacara Adat Nguras Enceh di Pajimatan Imogiri. Foto: Sartono

Masyarakat yang hendak ngalab berkah air dari Nguras Enceh ini umumnya telah menyediakan botol-botol air kosong. Di sekitar area ada beberapa penjual botol kosong bekas air mineral dengan harga variatif, dari Rp 500 – Rp 1.000. Banyak juga warga masyarakat dari luar daerah yang datang di lokasi sejak malam sebelumnya dan menginap di tempat ini.

Gentong-gentong besar yang disebut enceh tersebut berjumlah empat buah yang masing-masing bernama Kyai Danumaya (hadiah dari Kerajaan Palembang), Kyai Danumurti (hadiah dari Kerajaan Aceh), Kyai Mendung (hari Kerajaan Ngerum/Turki), dan Kyai Siyem (hadiah dari Kerajaan Siyam/Thailand).

Masyarakat berjubel di depan makam Sultan Agung, Pajimatan Imogiri, dalam Upacara Adat Nguras Enceh. Foto: Sartono
Masyarakat berjubel di depan makam Sultan Agung, Pajimatan Imogiri, dalam Upacara Adat Nguras Enceh. Foto: Sartono

Pada zaman dulu gentong-gentong ini digunakan untuk menyiapkan air wudu. Selain gentong atau enceh tersebut juga disiapkan ubarampe yakni sajen yang antara lain terdiri dari kembang telon, kemenyan/dupa, nasi gurih, ingkung ayam, pisang raja, kolak, ketan, apem, kolak kencana, tumpeng dengan kelangkapan sayuran dan lauk, sambel gepeng, goreng-gorengan (kacang, krupuk, rempeyek, kedelai, entho-entho), lalapan, dan jajan pasar.

Masyarakat mengambil air dari enceh yang dibagikan abdi dalem jurukunci Kasultanan Yogyakarta. Foto: Sartono
Masyarakat mengambil air dari enceh yang dibagikan abdi dalem jurukunci Kasultanan Yogyakarta. Foto: Sartono

Selain itu disiapkan pula paket nasi gurih lengkap dengan lauk pauknya dalam wadah dari daun pisang yang disebut takir. Paket nasi gurih ini dibagikan kepada semua pengunjung secara gratis sebelum pembagian air dari enceh.

Paket nasi gurih dan air dari enceh ini dipercaya memberikan berkah kepada siap saja yang mendapatkannya. Tidak aneh jika antusiasme untuk mendapatkan keduanya cukup besar.

“Bahkan di hari-hari di luar hari besar seperi Nguras Enceh pun minat untuk mendapatkan air dari enceh ini cukup besar,” tutur Mas Wahono Puspito (38), abdi dalem jurukunci berpangkat Jajar Anem Kasunanan Surakarta.

Nasi gurih yang siap dibagikan gratis kepada masyarakat dalam Upacara Adat Nguras Enceh. Foto: Sartono
Nasi gurih yang siap dibagikan gratis kepada masyarakat dalam Upacara Adat Nguras Enceh. Foto: Sartono

Gentong atau enceh-enceh itu diletakkan di Pajimatan Imogiri karena pada masa lalu urusan air di wilayah perbukitan ini menjadi salah satu kebutuhan penting yang relatif sulit didapatkan. Oleh karena itu Sultan Agung melakukan pengembaraan untuk mencari sumber air sehingga ia memperolehnya di sebuah mata air yang kemudian disebut sebagai Sumber Bengkung.

Air itu diyakini oleh orang yang mencari berkah, akan digunakan utnuk berbagai keperluan seperti kesembuhan dari sakit, ketenteraman, pupuk tanaman, menambah kualitas air sumur, dan seterusnya. Semua itu memang tergantung keyakinan masing-masing orang. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here