Prosesi Kirab Siwur Jelang Upacara Nguras Enceh Pajimatan Imogiri

0
934

Prosesi Kirab Siwur tahunan yang ke-18 dalam rangka persiapan upacara adat Nguras Enceh di Pajimatan Imogiri dilakukan setiap hari Kamis Wage (malam Jumat Kliwon) di bulan Sura (Jawa), yang jatuh pada Kamis, 6 Oktober 2016 mulai pukul 14.00 WIB. Pelepasan kirab dilakukan di Taman Kuliner Imogiri menuju Dalem Bupati Kanjengan Kasunanan Surakarta yaitu Dalem Bupati Puroloyo Kasultanan Yogyakarta, dan berakhir di Lapangan Parkir Pajimatan Imogiri.

Serah terima pusaka tombak dan payung sebelum Prosesi Ngarak Siwur 2016 dilakukan. Foto: A. Sartono
Serah terima pusaka tombak dan payung sebelum Prosesi Ngarak Siwur 2016 dilakukan. Foto: A. Sartono

Kirab Siwur (gayung) yang diserahterimakan di dua wilayah kabupaten yang mengurusi makam raja-raja Mataram di Imogiri ini diikuti oleh beberapa bergada (pasukan/kelompok), yakni Muspika Imogiri, Paksi Katon, FORCIBB (Forum Cinta Budaya Bangsa), Putri Candrasasi Wiratama, Puspitasari, Giri Tamtama, Imogiri, Wukirsari, Karangtalun, Kebon Agung, Karang Tengah, Karangseta, Girirejo, Sri Harjo, Selopamioro, Abdi Dalem Jurukunci Kasunanan Surakarta, Abdi Dalem Jurukunci Kasultanan Yogyakarta, dan Kesenian.

Gubenur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana X dalam sambutannya yang dibacakan oleh asisten keistimewaan, Didik Purwadi menyampaikan bahwa pengembangan kesenian tradisi di daerah memang perlu terus digalakkan sehingga daerah juga ikut berkembang. Berkembangnya budaya di daerah sekaligus akan berdampak pada pengembangan sosial dan ekonomi daerah yang bersangkutan. Budaya bangsa juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai unsur untuk memperkokoh budaya lokal dan budaya nasional.

Bregada Paksi Katon Bantul ikut mengawal Prosesi Ngarak Siwur 2016 di Imogiri. Foto: A. Sartono
Bregada Paksi Katon Bantul ikut mengawal Prosesi Ngarak Siwur 2016 di Imogiri. Foto: A. Sartono

Hal ini sejalan dengan harapan Wakil Bupati Bantul Haji Abdul Hamid Muslim yang dalam sambutannya menyampaikan harapan kegiatan semacam ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik sosial, budaya, maupun ekonomi sekaligus hal ini bisa membangun Bantul yang semakin sejahtera.

Kirab yang disaksikan oleh ribuan orang mulai dari Terminal/Taman Kuliner Imogiri – Jalan Makam Suci – hingga Lapangan Parkir Pajimatan Imogiri dilepaskan secara resmi setelah serah terima siwur dan dua pusaka, yakni Kyai Giri Puspo (tombak) dan Kyai Murti Hancolo (payung).

Prosesi Ngarak Siwur 2016 di Imogiri. Foto: A. Sartono
Prosesi Ngarak Siwur 2016 di Imogiri. Foto: A. Sartono

Satu hal yang menarik untuk disimak dalam prosesi ini adalah dialog antara pimpinan bregada prosesi kirab siwur yang dilaksanakan oleh Ketua FORCIBB, Sudarna adalah sebagai berikut, Menira pinangka cucuking lampah Prosesi Kirab Siwur ingkang kaping wolulas warsa kalih ewu nembelas nyuwun idi palilah sowan Kanjeng Raden Tumenggung Hastononingrat hing Imogiri, salajengipun pareng ngampil pusaka dalem Kyai Siwur kangge piranti nguras enceh hajad dalem ing pasarean Dalem Kanjeng Sinuwun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, mekaten atur menira. Nuwun. (Saya sebagai pimpinan Prosesi Kirab Siwur yang ke delapan belas tahun dua ribu enam belas memohon ijin menghadap Kanjeng Raden Tumenggung Hastononingrat di Imogiri, selanjutnya mohon untuk meminjam pusaka Kyai Siwur sebagai alat untuk nguras enceh yang menjadi hajad raja di Makam Kanjeng Sinuwun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, demikian permohonan saya. Terima kasih.)

Dua buah pusaka siwur yang telah usai dikirab dan siap untuk digunakan dalam Upacara Adat Nguras Enceh di Imogiri. Foto: A. Sartono
Dua buah pusaka siwur yang telah usai dikirab dan siap untuk digunakan dalam Upacara Adat Nguras Enceh di Imogiri. Foto: A. Sartono

Setelah semua pusaka siwur (gayung) diserahterimakan di dua wilayah kabupaten jurukunci tersebut, kemudian dikirab bersama ubarampe (gunungan sayuran, buah, dan makanan) hingga Lapangan Parkir Pajimatan Imogiri. Di tempat itu kedua siwur diserahterimakan oleh Wakil Bupati Bantul kepada jurukunci Pajimatan Imogiri agar keesokan harinya dapat digunakan sebagai alat untuk menguras enceh. Usai itu kemudian dilantunkan doa. Usai doa gunungan pun diperebutkan oleh masyarakat dengan diiringi gending-gending dari pengrawit anak-anak Imogiri dan pertunjukan kesenian jatilan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here