Konsep Laku pada Pameran Kaligrafi Nusantara di Langit Art Space

0
947
Asma Asma Mulia karya A Mustofa Bisri. Foto: A. Sartono
Asma Asma Mulia karya A Mustofa Bisri. Foto: A. Sartono

Harus diakui bahwa seniman kaligrafi Indonesia hanya mengembangkan kaligrafi Arab. Adakah kesengajaan untuk menjauhkan kita dari keterbiasaan dan kemaknaan aksara-aksara yang begitu melimpah di negeri Nusantara? Barangkali boleh diamini bahwa seni rupa Indonesia seperti dijauhkan dari peradaban dan tradisi negerinya sendiri.

Oleh karena itu, Langit Art Space mencoba menyuguhkan pameran kaligrafi dengan tema utama yang substansinya menekankan pendalaman-pendalaman esensi karya dari beragam aksara yang ada di Nusantara. Kecuali itu masih menekankan lagi bahwa kaligrafi Nusantara tersebut membawa kepada “laku”. Laku adalah tindakan batin dan fisik yang berisi kebaikan-kebaikan. Laku tersebut tidak saja menyangkut kehidupan senimannya, namun juga bagi orang lain.

Dari kiri ke kanan: Sriyono Hadi Putro ‘Como’ (Pemilik Langit Art Space), Emha Ainun Nadjib (Budayawan), R Sidik W Martowidjojo (Perupa), dan A. Anzieb (Kurator), dalam pembukaan Pameran Kaligrafi.
Dari kiri ke kanan: Sriyono Hadi Putro ‘Como’ (Pemilik Langit Art Space), Emha Ainun Nadjib (Budayawan), R Sidik W Martowidjojo (Perupa), dan A. Anzieb (Kurator), dalam pembukaan Pameran Kaligrafi.

Demikian tekanan tema yang disuguhkan Langit Art Space, Jl Sonosewu No 16 Ngestiharjo, Kasihan, Bantul dalam pameran Kaligrafi Nusantara: Waktu dan Lelaku dimana pameran diselenggarakan mulai tanggal 28 September-28 Oktober 2016. Pameran itu sendiri melibatkan 13 perupa yang dibuka oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dengan A Anzieb.

Istilah kaligrafi sendiri berasal dari bahasa Latin, collos yang berarti indah dan graph yang berarti tulisan tangan yang sangat elok, tulisan indah. Dalam terminologi Arab kaligrafi sama artinya dengan Khath yang berarti seni menulis huruf Arab atau kaligrafi China yang disebut Shufa. Sedangkan dalam istilah Jepang hal itu disebut Shodou, Korea (Seoye), rajah-rajah (Jawa/Bali), dan sebagainya.

Sementara itu pemaknaan kaligrafi kerapkali hanya merujuk pada aksara Arab saja. Jadi, sebenarnya kaligrafi berlaku untuk umum, keindahan aksara yang ditulisnya bersifat umum. Bahkan dalam analogi kaligrafi Arab sendiri tidak hanya untuk mengungkapkan ayat-ayat Al Quran atau hadist saja, Namun juga ada syair, doa, puisi, dan lain sebagainya.

Konten Terkait:  Jogjatopia, Semarak Patung di Kotabaru
Kidung Kasampurnan karya Edi Dolan. Foto: A. Sartono
Kidung Kasampurnan karya Edi Dolan. Foto: A. Sartono

Memaknai kaligrafi bukan semata-mata hanya menulis indah saja yang dipakai untuk keperluan profan sebagai seni visual publik baik itu bersifat tradisi, modern atau sepenuhnya eksperimental, namun lebih pada esensinya. Hal demikian dapat disimak pada karya-karya A Mustofa Bisri, AD Pirous, Nasirun, Syaiful Adnan, Zulkarnain, Robert Nasrullah, Sidik W Martowidjojo, Abay D. Subarna, Edi Dolan, Agus Kamal, dan Yetmon Amier.

Pameran kaligrafi ini memang tidak sebatas pad eksplorasi dan ekspresi kecenderungan umum (tidak hanya kaligrafi Arab) meskipun mayoritas berupa kaligrafi Arab. Namun ingin menekankan pada kaligrafi aksara-aksara Nusantara seperti Pallawa, Jawa kuno (Kawi), Jawa baru (Hanacaraka), Bali, Sunda kuno, Sasak, Batak, dan lain-lain.

Buah Terlarang karya Agus Kama. Foto: A. Sartono
Buah Terlarang karya Agus Kama. Foto: A. Sartono

Perlu ditekankan pula bahwa hadir atau lahirnya aksara dalam suatu bangsa menandai juga kehadiran dan perkembangan peradaban bangsa itu. Langit Art Space, kata kurator A Anzieb, memiliki perhatian besar terhadap hal itu dan akan menjadikan konsepsi pameran kaligrafi Nusantara ini sebagai agenda reguler tahunannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here