Wonder Zone dari Perupa Iin Kersen

0
627

Wonder Zone (zona ajaib) itulah tema besar yang diangkat Iin Kersen dalam pameran tunggalnya di Tahunmas Artroom, Jl. Sapto Hudoyo, Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul. Pameran dengan kurator oleh Timbul Raharjo, penulisan oleh Joseph Wiyono dan dibuka oleh Akhmadha BIP ini berlangsung pada 27 September-3 Oktober 2016.

Ketika Rasa Itu Membuncah karya Iin Kersen. Foto: Sartono
Ketika Rasa Itu Membuncah karya Iin Kersen. Foto: Sartono

Iin Kersen memamerkan 55 karya dalam pameran tunggal perdananya di Yogyakarta ini sekaligus merupakan pameran tunggalnya yang keempat. Iin mengakui bahwa memang ada beberapa gaya dan material yang ia gunakan dalam berkarya.

Perempuan boleh dikatakan menjadi objek utama dalam karya Iin. Ia ingin menyuarakan perihal zona perempuan sesuai kenyataan, yang dalam banyak hal sering ditutup-tutupi yang justru memunculkan berbagai kebohongan dan kemunafikan.

Persoalan keperempuanan sering ditabukan untuk dibicarakan secara terbuka dan lebih jujur padahal persoalan atau fenomena ini terjadi di sepanjang zaman. Tidak bisa dipungkiri bahwa di sepanjang sejarah perempuan menjadi semacam objek bahkan komoditas belaka. Iin ingin menggambarkan itu semua dengan jujur dan berani.

Iin Kersen (kiri) bersama kawan-kawan dalam pameran tunggalnya di Tahunmas Art Room. Foto: Sartono
Iin Kersen (kiri) bersama kawan-kawan dalam pameran tunggalnya di Tahunmas Art Room. Foto: Sartono

Timbul Raharjo dalam catatan kurasinya menyatakan bahwa karya Iin tampak seperti main-main, tak ada target, tak ada tujuan, mengalir sajalah diri Iin mau ke mana. Biarlah proses yang menentukan, proses hari ini adalah tumpukan pengalaman yang akan dilanjutkan esok hari. Akumulasi memberikan pelajaran yang berharga dalam setiap proses kerja, persetan dengan gaya, teknik, dan karakter. Maka suara kesahajaan dan kepolosan itu sebagai potret diri, sebagai representasi jiwanya. Kehidupan musti berjalan sebagai bagian detail hidup yang harus selalu dirasakan dan dihayati dalam proses kreatif, maka semua tersikapi dengan rasa senang dan susah, itulah sifat alamiah manusia.

Joseph Wiyono menangkap bahwa Yogyakarta bagi Iin Kersen ibarat wonder zone dengan segala dinamika yang tak pernah padam oleh intensitas perhelatan maupun wacana seni rupanya. Jika pun Iin telah begitu banyak melanglang rupa menjelajah sudut-sudut artistik hingga pelosok negeri, maka menggapai Yogyakarta diharapkan menjadi puncak tertinggi yang menawarkan sudut pandang baru, meninjau capaiannya selama ini dan melakukan inventarisasi segala macam modal artistik yang telah dipetiknya.

Konten Terkait:  Aneka Rupa dalam Pameran Keluarga Nusantara
Keragaman 5 panel. Foto: Sartono
Keragaman 5 panel. Foto: Sartono

Sudah lebih dari cukup bagi Iin Kersen untuk bersama-sama berakselerasi dalam gerak dinamis seni rupa Yogyakarta dengan mengerahkan kembali spirit dan keberanian serta jiwa penjelajahan yang sudah dipunyainya selama ini. Dengan begitu diharap ke depannya proses kreatif Iin Kersen senantiasa semakin tumbuh subur, kokoh-kuat, dan ikut memperindah ataupun justru mampu menciptakan wonder zone-nya sendiri.

Pada sisi lain Iin juga berharap agar apa yang dilakukannya itu menjadi daya dorong pula bagi kawan-kawan seniman wanita yang lain untuk eksis atau menunjukkan kemampuannya. Agar dengan demikian kiprah wanita pun menjadi semakin sejajar dengan kiprah kaum laki-laki. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here