Ketoprak Jakarta menggoda di Yogya

0
1855
Sepiring ketoprak siap disantap racikan Yanto. Foto: Barata
Sepiring ketoprak siap disantap racikan Yanto. Foto: Barata

Di Yogyakarta ada ketoprak, di Jakarta juga ada ketoprak. Bedanya, ketoprak di Yogyakarta adalah jenis seni pertunjukan tradisional, sedangkan di Jakarta adalah jenis kuliner khas Betawi. Di Yogya warung atau gerobak yang menjual menu ketoprak hanya sedikit. Satu di antaranya yang layak direkomendasi adalah ketoprak milik Suyanto, di kawasan Manding, Bantul.

Sepiring ketoprak siap disantap racikan Yanto. Foto: Barata
Sepiring ketoprak siap disantap racikan Yanto. Foto: Barata

Ketoprak tergolong menu “sederhana” yang terdiri dari tahu putih, bihun, tauge, ditambah sedikit kecap dan disiram sambal kacang. Disantap dengan ketupat, makanan ini cukup mengenyangkan. Di Jakarta, biasanya ketoprak dijajakan oleh penjualnya dengan mendorong gerobak yang cukup panjang. Bunyi piring dipukul dengan sendok menjadi salah satu cirinya. Ketoprak banyak pula dijual di warung tenda atau warung permanen. Di Yogya, ketoprak di tenda dan warung permanen masih tampak di beberapa tempat, sedangkan yang menggunakan gerobak rasanya belum pernah ditemukan.

Sekitar tahun 2015 dan sebelumnya, ketoprak Yanto masih menggunakan tenda di trotoar depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati. Kini sejak tahun 2016 ketoprak Yanto menempati sebuah rumah yang dikontraknya di sisi barat perempatan ringroad Manding, di sisi utara jalan.

Yanto sedang mengulek kacang tanah untuk dijadikan sambal kacang yang lezat. Foto: Barata
Yanto sedang mengulek kacang tanah untuk dijadikan sambal kacang yang lezat. Foto: Barata

Salah satu kelebihan ketoprak Yanto adalah pada rasa pedasnya. Di gerobaknya malah ditulis ‘Toprak Jakarta, spesial extra pedas’, disertai banner berbahasa gaul ‘pedasnya tuh di sini’. Biasanya pengunjung meminta lima cabai untuk setiap porsi ketoprak. “Tapi pernah ada pembeli yang memesan 15 cabai. Saya tetap memakai harga biasa tapi dia malah membayar Rp 50.000 dan menolak kembalian,” ujar Yanto sambil tertawa.

Selain rasa pedas, aroma bawang putih mentah juga cukup dominan. Komposisinya pas sehingga cocok baik dengan aroma komponen ketoprak maupun dengan aroma cabainya. Dipadu dengan gurih sambal kacang dan sedikit manis kecap. Yanto mampu menghasilkan ketoprak yang cukup menggoda lidah.

Para pembeli antri menantikan ketoprak. Foto: Barata
Para pembeli antri menantikan ketoprak. Foto: Barata

Warung ini tidak pernah sepi pembeli. Sejak masih bertenda di depan RSUD, jam 11 biasanya ketoprak sudah habis, atau paling lambat jam 1 siang. Dalam sehari, menurut Yanto, biasanya laku 130-140 porsi. Dalam seminggu warung ini buka selama enam hari, termasuk hari besar. Pada hari Minggu libur.

Perkenalan Yanto dengan ketoprak saat ia bekerja sebagai supir selama 13 tahun di Jakarta. Menikah dengan orang Bantul, ia kemudian pindah ke Yogya dan mencoba-coba membuat ketoprak. Ternyata enak, dan banyak yang suka. Jadilah ia ikut menyemarakkan ketoprak di Yogya, bukan pertunjukan tapi kuliner yang laris-manis. (*)

PETA LOKASI:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here