Nyai Surti Dalam Sastra Bulan Purnama

0
574

Nyai Surti, salah satu judul cerpen dalam antologi cerpen ‘Pulang Ke Kotamu’ karya Ristia Herdiana digarap dalam bentuk drama oleh Kelompok Belajar Pertunjukan Sastra dengan sutradara Anes Prasetya dan ditampilkan dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi ke-56, Senin malam 23 Mei 2016 di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Semua pemainnya anak-anak muda. Anes Prastyo selaku sutradara juga masih muda. Anak-anak muda ini memang suntuk belajar seni pertunjukan, dan teater hanyalah salah satu dari yang mereka pelajari. Properti untuk melengkapi pertunjukan hanya sederhana, kain putih dibentangkan di tengah pendapa sebagai layar, dan tiang-tiang di pendapa sekaligus sebagai properti.

Iringan musiknya sudah dipersipkan sehingga tinggal memutar melalui perangkat digital sehingga pertunjukan ‘Nyai Surti’ terasa hidup. Anak-anak muda, laki dan perempuan bermain dengan sungguh-sungguh. Mereka memahami panggung pendapa, sehingga tidak kesulitan dalam memainkan tokoh yang diperankan.

Di tengah Pendapa, surti dan seorang dukun perempuan sedang transaksi dan melakukan ritual. Sebagai penari Surti ingin terlihat cantik jelita sehingga mempesona setiap orang, lebih-lebih terhadap laki-laki. Ritual pemberian susuk berhasil dan Surti terkejut melihat wajahnya semakin tambah cantik.

Karena susuk yang menempel di tubuh itulah, Surti merupakan penari tercantik dan terlaris di antara penari lainnya. Adegan menari dimainkan di balik layar yang disorot lampu, sehingga teknis seperti itu memberikan estetika pada pertunjukan ‘Nyai Surti’. Meski teknis seperti itu bukan hal yang baru, tetapi pilihan teknis tersebut memberikan keindahan pada pertunjukan’ Nyai Surti’.

Tampaknya, Anes Prasetyo selaku sutradara menginginkan keindahan hadir pada pementasan, maka adegan pertunjukan tidak semua ditampilkan di panggung, melainkan ada bentuk efek cahaya mirip seperti pertunjukan wayang kulit. Justru disinilah keindahan yang diharapkan oleh Anes hadir dalam pertunjukan.

Dinamika cerpen memang berbeda antara dibacakan dan diolah menjadi pertunjukan drama. Pada pembacaan cerpen semua tokoh diperankan oleh satu orang, dalam hal ini pembaca. Pada pertunjukan drama ada pembagian peran. Toloh-tokoh dalam cerpen diperankan oleh orang berbeda.

Anes, bersama teman-temannya dari Kelompok Belajar Pertunjukan Sastra ingin menghidupkan cerpen Nyai Surti dalam pertunjukan drama. Dua pemeran, penari dan dukun, yang diperankan oleh perempuan, tampil cukup bagus. Bahkan pemeran dukun, yang diperankan oleh seorang wanita muda, tetapi karena make up dan tata rias serta kostum yang dikenakan, sehingga usia mudanya berubah menjadi terlihat tua: sungguh menyerupai seorang dukun.

Semangat para kreator muda bersama Anes, memberi warna lain pada pembacan cerpen, dan Ristia Herdiana, penulis cerpen berjudul ‘Nyai Surti’ terlihat puas melihat pertunjukan yang mengolah cerpen karyanya.

Tampaknya, penampilan Anes sebagai sutradara kali ini, lebih siap dari pertunjukan yang pernah dilakukan dengan mengolah cerita lain, atau mengolah puisi menjadi pertunjukan drama. Pada ‘Nyai Surti’ Anes telah belajar dari proses sebelumnya, dan kiranya pada pertunjukan lainnya, Anes bersama teman-temannya akan lebih maju dan bertambah bagus. Selamat Anes dan KBPS –Kelompok Belajar Pertunjukan Sastra.

Ons Untoro

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here