Penonton Justru Terpikat dengan Adegan Limbukan

0
931

Ada fenomena menarik di seputar pentas wayang kulit pada beberapa tahun terakhir ini. Tidak terkecuali pada pentas wayang kulit semalam suntuk di Dusun Ngaran, Gilangharjo, Pandak, Bantul Yogyakarta, pada 4 Mei 2016, yang dibawakan oleh Ki Gondo Suharno. Fenomena tersebut dapat dilihat dari berjubelnya penonton pada adegan limbukan, saat tampilnya bintang tamu, yang terdiri dari Dhimas Tejo, Yuningsih dan Pur Bonsai.

Kebanyakan penonton ingin melihat para bintang tamu tersebut menyanyi, menari dan melucu. Selama hampir tiga jam penonton terikat dan terpikat dengan penampilan mereka. Sehingga hampir tidak ada (jika pun ada kecil jumlahnya) diantara mereka yang meninggalkan panggung wayang kulit, selagi ketiga bintang tamu tersebut masih berada di atas panggung.

Jika pun tidak mengingat bahwa panggung itu sesungguhnya adalah panggung pegelaran wayang kulit, mungkin penonton masih betah menyaksikan Dhimas Tejo dan kawan-kawan hingga dini hari. Namun dikarenakan panggung tersebut adalah panggung pegelaran wayang kulit purwa, maka penampilan Dhimas Tejo pun terpaksa dibatasi sampai pukul 01.00.

Akibatnya tepat pada pukul 01.15 bebarengan dengan turunnya para bintang tamu, penonton pun bubar. Tinggal sedikit yang tersisa. Padahal, Ki Suharno sedang mulai menggelar inti lakon dari Wahyu Cakraningrat.

Dikisahkan Samba Wisnubrata telah berbulan-bulan murca dari Kerajaan Darawati untuk bertapa di hutan. Tujuannya adalah ingin mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Pasalnya bagi siapa yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat, akan menjadi raja diraja. Rupanya ambisi Samba yang begitu tinggi, menjadikannya ia kuat melakukan sebuah laku yang sangat berat demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Pusaran energi keprihatinan yang dibangun Samba di tempat ia bertapa telah menarik perhatian Wahyu Cakraningrat. Maka kemudian dipilihlah Samba sebagai tempat untuk bersemayam Wahyu Cakraningrat. Namun ketika Saroja Kusuma putra mahkota Hastinapura ingin merebut Wahyu Cakraningrat, Samba mengkukuhinya, bahkan ia memamerkan kesaktian Wahyu Cakraningrat yang ada pada dirinya, diantaranya tidak terluka oleh senjata, dapat terbang tanpa sayap, dapat ambles bumi.

Rupanya sikap sok pamer, dan congkak tidak sesuai dengan karakter Wahyu Cakraningrat. Sang Wahyu pun merasa gerah dan tidak betah tinggal bersemayam di dalam pribadi Samba. Sebentar kemudian sang wahyu meninggalkan Samba, untuk mencari pribadi yang kuat menjalalni laku prihatin, rendah hati dan penuh welasasih.

Adegan itulah yang sesungguhnya sangat menarik. Karena di dalamnya ada permenungan, bahwa mencita-citakan turunnya wahyu membutuhkan laku yang berat, lebih berat lagi untuk mempertahankan wahyu tetap bersemayam di dalam kehidupannya.

Pada akhir cerita dari pegelaran wayang kulit malam itu, Wahyu Cakraningrat memilih Abimanyu sebagai tempat untuk bersemayam. Abimanyu anak Arjuna yang berpasangan dengan Sembadra mampu memenangkan kedua rivalnya, yaitu Saroja Kusuma dan Samba Wisnubrata, bukan karena kepandaiannya, atau kesaktiannya, atau juga laku tapanya, melainkan karena sikapnya yang sederhana, rendah hati dan penuh belas kasih.

Tidak hanya Abimanyu, setiap pribadi yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat yang adalah wahyu raja, ia dimampukan untuk merajai diri sendiri (jagad cilik) dalam hubungan dengan ciptaan lain (jagad gede), untuk memayu hayuning bawana.

Naskah dan foto: Herjaka HS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here