Kritik Sosial Teater Gadjah Mada Melalui Lakon Ndog

1
787

Teater Gadjah Mada Angkatan 2015, Senin malam, 2 Mei 2016 mementaskan lakon Ndog yang merupakan adaptasi dari naskah monolog Putu Wijaya yang berjudul Tok Tok Tok. Pementasan dilakukan di Gelanggang Mahasiswa UGM, Bulaksumur, Yogyakarta. Pementasan ini dimaksudkan sebagai studi pentas, yakni semacam uji pentas di hadapan khalayak. Sekalipun ruang pentas relatif kurang luas dan penataan ruang diblok dengan kain warna hitam, serta jarak penonton dengan panggung pementasan nyaris tanpa batas, toh pementasan dapat dilakukan dengan lancar.

Istilah ndog yang dijadikan judul pementasan ini berasal dari bahasa Jawa yang artinya adalah telur. Dengan judul itu akan menjadi lebih klop jika pementasannya juga menggunakan bahasa Jawa. Jika judul lakon yang digunakan adalah Telur dengan pementasan yang menggunakan bahasa Indonesia mungkin tidak menjadi soal. Mungkin pemilihan istilah Ndog dengan pementasan tetap menggunakan bahasa Indonesia sengaja digunakan untuk mencapai efek penasaran sekaligus ketegangan bagi penonton.

Pementasan lakon Ndog yang disutradarai oleh Wan Aji Wijaya dibuka dengan penampilan Ibu ayam (diperankan oleh Widi) yang berceloteh tentang telur-telurnya yang sebentar lagi menetas. Ia mengharapkan anak-anaknya (yang diperankan oleh Achis, Icak, dan Frida) yang akan menetas itu kelak menjadi anak-anak yang gembira, bermain, pembelajar, dan seterusnya. Namun di balik itu ia juga merasa jengkel karena dari telur-telur itu ada yang enggan menetas.

Ayam dewasa (diperankan oleh Nabila) yang menjadi kakak dari telur-telur itu juga mengkhawatirkan kehidupan yang akan ditempuh adik-adiknya yang sebentar lagi menetas. Sebab ia tahu ada miliaran ayam yang ditetaskan, diobati, diberi asupan yang baik, yang akhirnya hanya menjadi santapan manusia. Sepertinya hidup yang demikian tidak ada artinya sama sekali. Hal ini menjengkelkan bagi ayam dewasa.

Ndog (telur) di panggung ini dipresentasikan dengan menggunakan dua buah bambu yang disambung di bagian ujungnya sehingga membentuk konstruksi segitiga. Ada tiga buah konstruksi demikian. Pada masing-masing konstruksi tersebut terdapat satu pemeran yang berfungsi sebagai ndog. Jadi, masing-masing konstruksi menjadi simbol dari cangkang telur.

Masing-masing telur juga saling berdialog satu dengan yang lainnya. Telur yang satu merasa tidak perlu menetas karena kehidupan setelah menetas sangat membahayakan, penuh ancaman. Kecuali itu, setelah menetas ayam kecil harus mulai mandiri, hal itu sungguh tidak nikmat dan merepotkan. Sementara telur yang lain merasa bahwa memang harus menetas karena itu semua panggilan alam. Persoalan di luar telur setelah menetas adalah persoalan nanti. Terserah mau seperti apa jadinya.

Ketika semua telur menetas akhirnya semua anak ayam menemukan pengalaman baru. Ternyata pula dunia tidak seburuk yang mereka sangkakan dan khawatirkan. Ada begitu banyak keindahan, kenikmatan, dan kesukacitaan di bumi. Memang ada banyak hal yang menyedihkan, ada banyak kerusakan, ketimpangan, ketidakadilan, ketidakbenaran, dan seterusnya. Semuanya itu harus dibenahi. Tidak cukup hanya dikhawatirkan, dibuat bahan gosipan, bahkan dihindari.

Salah satu hal yang tampaknya perlu ditingkatkan adalah keluwesan dalam dialog antarpemeran dan juga keberanian berimprovisasi sehingga dialog semakin hangat, segar, dan lebih menggigit. Demikian pementasan lakon Ndog dengan iringan musik oleh Galuh Laksmi P., Ayrton Fithiadi S., Yoases Kevin GS., dan Karina Swastiningtyas serta Isabut, Sa, robby, dan Suluh di bagian tata lampu. Ratri di bagian make up dan setting serta properti oleh Hamima dan Widi.

Naskah dan foto: a. sartono

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here