Drapen 10 Lubang Peluru di Dadanya

0
521

Cerita pendek berjudul ’10 Lubang Peluru di Dadanya’ karya Budi Sarjono, seorang novelis dan cerpenis dari Yogyakarta, diolah menjadi satu pertunjukan drama pendek, yang oleh sutradaranya Bambang Darto, seorang aktor teater senior dari Yogya, disebutnya sebagai drapen, dipentaskan untuk mengisi Sastra Bulan Purnama ke-55, Jumat, 22 April 2016 di Pendapa Tembi Rumah Budaya.

Tokoh utama dari lakon ini Liek Suyanto, seorang aktor senior dari Yogya yang pernah main dalam sejumlah sinetron dan film. Liek, demikian panggilannya, memerankan tokoh Pak RT, dilengkapi para pemain lainnya, yang semuanya anak-anak muda dari komunitas Sanggarbambu.

Waktu yang tersedia hanya pendek, 10 hari untuk latihan, tapi rupanya Liek Suyanto siap. Mungkin karena dia aktor senior, yang sudah memiliki jam terbang pentas, waktu 10 hari untuk persiapan, rupanya masih cukup. Bahkan, waktu sependek itu masih digunakan untuk mengumpulkan anak-anak muda yang akan melengkapi pertunjukan.

“Kita mempersiapkan  drapen ini hanya 5 hari. Dan selama 5 hari itu kita latihan untuk pentas malam ini di Sastra Bulan Purnama,” kata Liek Suyanto.

Lakon ini mengisahkan pembunuhan para preman di Yogya, yang dikenal dengan sebutan petrus, kependekan dari penembak misterius. Hampir setiap malam, atau pagi hari di Yogya dikejutkan adanya mayat yang ditemukan dan dikenali sebagai preman, atau dalam istilah di Yogya disebut sebagai gali.

Di kampung Liek Suyanto menjadi RT ditemukan mayat Zukri. Warga mendatangi rumah pak RT untuk melaporkan kematian Zukri karena ditembak, dengan 10 lubang peluru di dadanya.

“Kami warga RT 16 menemukan mayat Zukri tergelatak di bawah pohon nangka. Dia mati ditembak,” seru warga RT di rumah ketua RT 16.

“Bukankah dia sudah bertobat menjadi orang baik?” kata Pak RT pada warga.

Warga menolak menguburkan mayat Zukri. Liek Suyanto sebagai Ketua RT diberi tanggung jawab untuk menguburkannya, karena warga tidak senang dengan Zukri, yang menjadi gali dan sering membuat onar di kampung.

Meski durasinya hanya sekitar 15 menit, Liek Suyanto dan teman-teman mudanya bermain dengan sungguh-sungguh. Pertunjukan drama pendek terasa hidup dan memberi warna pada pertunjukan Sastra Bulan Purnama. Adegan demi adegan dimainkan dengan baik sehingga drama pendek ini dinikmati dengan suasana tenang oleh para penonton.

Liek Suyanto, sebagai aktor senior, sungguh bermain dengan menyenangkan. Dia tidak membedakan pentas di satu gedung lengkap dengan properti dan bermain di satu panggung, yang sebut saja, miskin properti. Rupanya, Liek mengerti, kemampuan keaktoran jauh lebih penting ketimbang properti atau setting panggung.

Dengan sedih dan haru, akhirnya sebagai Ketua RT, Liek Suyanto ditemani warganya memakamkan Zukri, salah seorang warganya dan sahabat dekatnya.

“Kaliam setuju atau tidak sepuluh lubang peluru di dada Zukri adalah sebuah kehormatan,” kata Liek Suyanto di pemakaman Zukri.

Ons Untoro

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here