Purnama di Antara Perempuan Berkebaya

0
684

Sastra Bulan Purnama edisi ke-55, di Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis Km 8,5, Bantul, Yogyakarta, Jumat 22 April 2016 bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini, maka para penampil, yang semuanya perempuan, mengenakan kebaya.

Jadi, Sastra Bulan Purnama (SBP) terasa sungguh keibuan, meski perempuan yang tampil membaca puisi tidak semuanya berstatus ibu, seperti Annisa Hertami Kusumastuti dan Gendis Pawestri. Keduanya memiliki aktivitas yang berbeda, Annisa pernah main dalam beberapa film, salah satunya filn ‘Soegija’ dan Gendis adalah seorang penari tari klasik. Keduanya seringkali menikmati Sastra Bulan Purnama dan baru kali ini tampil membaca puisi di SBP.

SBP yang diisi launching antologi puisi ‘100 Puisi Yuliani Kumudaswari’ selain terasa cantik, karena semua penampil adalah perempuan-perempuan cantik, ada bau harum dari para pembaca. Jadi, puisi-puisi Yulaini terasa harum wangi di antara para pembacanya.

Dengan memilih puisi yang berbeda-beda, para pembaca puisi ini tampil dengan mempesona. Bukan hanya karena semua cantik-cantik dan kebaya yang dikenakan menambahkan keanggunan, tetapi dalam membaca memang terasa enak untuk dilihat dan dinikmati. Yuliani, selaku penyair yang puisi-puisinya dibacakan, tampil pertama. Dengan bersahaja, dan terlihat tergetar, karena mungkin tidak menyangka acaranya akan meriah, membacakan satu puisi karyanya.

Annisa dan Gendis, keduanya paling muda di antara 10 pembaca lainnya, rupanya memahami puisi karya Yuliani, sehingga puisi yang dibacakan terasa hidup. Dua perempuan penyiar, dan sama-sama ibu muda, Ida Fitri dan Endah Sr, mungkin karena terbiasa siaran, sehingga membacakan puisi dengan penuh penghayatan.

Ardi Susanti, penyair dari Tulungagung tak pernah kehilangan semangat. Dengan penuh energi, dia gerakkan tubuhnya dan dengan lantang membacakan puisi karya Yuliani. Di tangan Ardi, puisi berubah menjadi benda hidup, dan kali ini, seperti perempuan lainnya, dia juga mengenakan jarik dan kebaya. Sungguh feminin penampilannya.

Konten Terkait:  Fis Duo Perkenalkan Sastra dan Lisan Maluku

Watie Respati, seperti halnya Ardi Susanti, selalu bergelora setiap kali menghadapi puisi. Semangatnya yang menyala menghidupkan puisi yang dibacakan. Endah Raharjo, dengan suara teduh dan keibuan, memberi kesejukan suasana SBP. Rambutnya sudah memutih, tetapi wajahnya tampak muda dan cantik.

Lain lagi dengan Savitri Damayanti, dia sadar atas panggung, sehingga penampilannya teaterikal. Savitri bukan hanya ingin menghidupakan puisi yang dibacakan, tetapi penampilannya itu sendiri penuh warna, sehingga di tangan Savitri, puisi memiliki nuansa dramatik.

Sastra Bulan Purnama di antara perempuan berkebaya ini juga diwarnai penampilan musik dari kelompok musik Jejak Imaji dan lagu puisi Sri Krishna, dan drama pendek berjudul ’10 Lubang Peluru Di Dadanya’ yang dimainkan Liek Suyanto dan komunitas teater dari Sanggarbambu, yang distradarai Bambang Darto, seorang aktor teater dari Yogya sekaligus penyair.

Ons Untoro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here