Macapat ke-146 Menembangkan Sejarah Pakualaman

0
750

Macapatan Malem Rabu Pon di Tembi Rumah Budaya, diawali pada 3 Oktober 2000 dengan menembangkan babad Mangir selama dua putaran. Untuk putaran selanjutnya, Macapatan Malem Rabu Pon memilih Serat Centhini sebagai lajernya. Selama 16 tahun pada bulan ini 12 April 2016 kegiatan rutin ini sudah memasuki putaran yang ke-146.

Di samping serat Centhini yang menjadi materi pokoknya, macapatan ini juga mewadahi hasil kreasi para ‘pujangga lokal’ yang dengan gigih menggubah syair-syair tembang sesuai dengan nuraninya serta niatnya untuk dipersembahkan kepada para pecinta macapat.

Pada putaran ke-146 ini, Ki Bodronoyo dari Dusun Puluhan Bantul, menyumbangkan tulisannya mengenai ‘Sejarah Pakualaman’ yang digubah dengan tembang Sinom sebanyak 32 ‘pada’ atau bait.

Proses kreatif yang dijalani Ki Bodronoyo tidak berdasarkan pesanan, dan juga tidak berdasarkan imbalan materi. Alih-alih tulisannya yang berupa sastra tembang sudah dicetak pada panduan macapat Tembi Rumah Budaya, serta ditembangkan secara bergantian oleh para pecinta macapat yang hadir, sudah merupakan penghargaan yang membanggakan.

Telah ratusan tembang (dalam hitungan pada) dihasilkan oleh Ki Bodronoyo, di antaranya adalah; Benteng Nusantara, Sejarah Kabupaten Bantul, Sejarah Kabupaten Kulon Progo, dan berikut ini adalah Sejarah Pakualaman. Untuk karya yang disebut terakhir ini, khusus dibuat dalam rangka mangayubagya Jumenengan KGPAA Paku Alam X, 7 Januari 2016 :

Temnang Sinom

2. Duk nguni Ngayogyakarta

den jajah Landa lan Inggris

kraton ing Ngayogyakarta

H.B III (tiga) kang nglenggahi

gubernur jendral Inggris

jendral Rafles naminipun

pepanggihan lan Sultan

ing pendapa kraton ugi

hangestreni jumeneng Nata Kusuma

3. Lah ing riku duk samana

Jendral Rafles hangadani

penandha-tanganan kontrak

ingaran kontrak politik

klawan pamrentah Inggris

dene paprentahanipun

pangran Nata Kusuma

tinetepan adipati

kang nglenggahi kadipaten Pakualaman

4. Pangeran Nata Kusuma

wus jumeneng adipati

Paku Alam sepisanan

asil kontrak lawan Inggris

pitulas Maret sasi

duk ing nguni tahunipun

wolulas-tigawelas (17 Maret 1813)

penjajah lumebet nagri

saking Inggris tuwan Crafurd asmanira

5. Paku Alam kang sepisan

Nata Kusuma nglenggahi

yeku putra HB stunggal

sing ibu Srenggarawati

nglenggahi adipati

dangune pitulas tahun (seda 1829)

pangeran kang merdika

tan gumantung sultan nagri

“hari jadi” kadipaten Pakwalaman

Selain memberi ruang ‘penciptaan’ untuk kategori sastra tembang macapat, acara yang berlangsung setiap 35 hari sekali ini juga memberikan ruang tampil bagi kelompok karawitan yang ada di Bantul dan sekitarnya. Pada putaran ke-146 ini kelompok karawitan Sekar Wangi dari Ngibikan Candhen Bantul, serta Angger Sukisno sebagai pemandunya hadir guna menyemarakan suasana macapatan.

Dengan kemasan macapat dan diselingi dengan gendhing-gendhing Jawa, niscaya banyak hal yang bisa disampaikan serta dirasakan. Baik melalui suara gendhing-gendhing Jawa, maupun melalui suara tembang macapat. Sesuatu yang disampaikan diantaranya adalah, buah karya luhur yang dapat menjadikan hidup ini semakin bermakna, baik bagi dirinya sendiri, bagi orang lain dan juga bagi generasi mendatang

Naskah dan foto: Herjaka HS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here