Puisi, Musik dan Drapen di Tembi

0
647

Sastra Bulan Purnama, yang sering disingkat SBP edisi ke-55, yang diberi tajuk ‘Perempuan dan Puisi’ kali ini bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini, sehingga ditampilkan para pembaca perempuan, yang akan membacakan puisi karya Yuliani Kumudaswari yang berjudul ‘100 Puisi Yuliani Kumudaswari’ sekaligus menandai launching bukunya, dan akan diselenggarakan Jumat, 22 April 2016, pukul 19.30 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Pembaca puisi dipilih para perempuan dengan berbagai macam profesi, ada penyiar, pemain film, perupa, guru, penari, ibu rumah tangga, aktivis dan lainnya. Mereka adalah Annisa Hertami Kusumastuti,Ardi Susanti, Endah Raharjo, Endah Sr, Gendis Pawestri, Ida Fitri, Savitri Damayanti, Septi Wahana Pintarti, Watie Respati.

Selain itu ada lagu puisi, yang akan mengolah puisi Yuliani Kumudaswari menjadi lagu yang dimainkan oleh Sri Krishna, yang lebih dikenal dengan panggilan Encik dan merupakan seorang pelantun lagu puisi yang mumpuni. Tampil pula kelompok musik “jejak Imaji’, yang akan dimainkan oleh beberapa penyair dan mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Kecuali puisi dan musik, satu pertunjukan yang disebut Drapen atau drama pendek, sebagai closing dalam acara Sastra Bulan Purnama, akan dimainkan oleh seorang aktor senior Liek Suyanto. Liek, selain dikenal sebagai aktor teater, juga sudah tampil dalam banyak judul film dan sinetron. Liek akan memainkan lakon dengan judul ’10 Lubang Peluru di Dadanya’ karya seorang novelis, Budi Sarjono. Drama pendek ini disutradarai Bambang Darto, seorang aktor teater senior Yogyakarta.

Dipilih tanggal 22 April 2016 sebagai acara Sastra Bulan Purnama karena pada tanggal itu tepat tanggal 14 bulan Jawa, yang artinya pas Bulan Purnama, karena dalam penanggalan Jawa tanggal 14 bulan Jawa di malam hari sudah memasuki tanggal 15 bulan Jawa.

Secara kebetulan pilihan tanggal itu bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini, maka sekaligus Sastra Bulan Purnama memeriahkan Hari Kartini dengan pembacaan puisi oleh para perempuan.

100 puisi karya Yuliani Kumudaswari semuanya tidak diberi judul, melainkan hanya diberi tanda angka 1 sampai 100 yang diterakan pada setiap puisinya. Dengan cara seperti itu, mungkin Yuliani ingin menyampaikan pada publik, bahwa puisi tidak harus selalu diberi judul. Namun bisa sekaligus untuk dimengerti bahwa Yuliani dalam menulis puisi tidak menuliskan judulnya terlebih dulu.

100 puisi karya Yuliani, mengambil tema beragam, dan dia tertarik mengenai susasana alam, namun juga ada kisah-kisah sosial dan tanda-tanda modernitas dia tuliskan dalam puisinya.

Terasa sekali, puisinya berangkat dari pengalaman personal dan kemudian ditempatkan pada kisah persoalan di luarnya, sehingga kisah personal itu menjadi memiliki makna.

Tersedia 100 buku puisi bagi hadirin yang datang lebih awal untuk menikmati Sastra Bulan Purnama.

Ons Untoro

pmd1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here