Kisah Kematian Sumitra, Anak Arjuna yang Terpinggirkan

0
1603

Pada ulang tahun ke-5 paguyuban dalang-dalang muda Sukrokasih Yogyakarta mengadakan pentas pakeliran apresiasi. Kali ini yang ditampilkan adalah pakeliran gaya banyumasan, dengan dalang Ki Bagas Kriswanto dari Kecamatan Purwakerta Selatan, Kabupaten Banyumas. Pentas semalam suntuk tersebut dilaksanankan pada 16 Maret 2016 di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta.

Pentas pakeliran gaya Banyumas di Yogyakarta tergolong langka, oleh karenanya para penggemar wayang kulit di Yogya yang sebagian besar belum pernah melihat pakeliran gaya Banyumas ingin menyaksikan seperti apakah pakeliran gaya banyumasan itu. Maka penonton pun lebih banyak dibandingkan dengan jika yang digelar pakeliran gaya Yogyakarta.

Namun di balik rasa penasaran tersebut, ada penonton yang bertanya-tanya setelah adegan jejer pertama hampir selesai, di mana gaya banyumasan kok tidak ada? Walaupun sudah dijawab, ya seperti itulah gaya banyumasan, penonton tersebut tidak puas. Karena yang ia saksikan seperti pakeliran gaya Solo, baik itu wayangnya maupun iringannya.

Menurut keterangan Ki Sumanto Susilamadya, ada dua gaya pakeliran yang berkembang di Banyumas, yaitu pakeliran lor (utara) gunung dan pakeliran kidul (selatan) gunung. Pakeliran lor gunung seperti yang disaksikan pada pentas kali ini. Kiblatnya ke Solo. Dialek Banyumas yang kental, hanya ada pada adegan limbukan dan gara-gara. Sedangkan gaya pakeliran kidul gunung, baik wayang maupun iringannya khas banyumasan. Demikian pula dialeknya, menggunakan dialek Banyumasan pada setiap adegan. Mungkin gaya pakeliran kidul gunung ini yang diharapkan oleh sebagian penonton tadi.

Lepas dari itu semua, Ki Bagas Kriswanto dalang yang sedang naik daun, telah menampilkan kemampuan terbaiknya untuk menghibur penonton. Bahkan tidak hanya menghibur, lewat cerita Banjaran Sumitra, Ki Bagas telah merefleksikan nilai-nilai kehidupan yang mulai dipinggirkan, yaitu nilai saling menghargai. Menghargai orang lain seperti menghargai diri sendiri.

Dikisahkan, Sumitra salah satu anak Arjuna, semasa hidupnya tidak pernah mendapat tempat sepadan dengan anak-anak Arjuna yang lain, seperti misalnya Abimanyu, Wisanggeni, Irawan, Pergiwa dan Pergiwati. Hal tersebut dikarenakan Sumitra disebut sebagai ‘lembu peteng’ anak haram. Ia lahir dari rahim Dewi Ratri, yang adalah anak raja Jim Yudistira. Pada waktu Pendawa babad alas Wanamarta, kerajaan jim Prabu Yudistira tergusur. Karena kalah perang, Prabu Yudistira menyerahkan kerajaannya kepada Puntadewa. Ia sendiri kemudian manuksma menjadi satu dengan Puntadewa. Sedangkan Dewi Ratri anaknya dititipkan kepada Puntadewa.

Konten Terkait:  Ada yang Baru dari Lakon Bunga Penutup Abad

Maka tidaklah heran jika kemudian Putadewa yang biasanya halus, lembut, sabar, legawa ing donya, rila ing pati, menampakkan kemarahannya dengan menghukum Arjuna yang telah menghamili Dewi Ratri. Puntadewa terpukul dengan kejadian tersebut. Ia sangat malu kepada Prabu Yudistira yang telah mempercayakan Dewi Ratri kepadanya. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.

Sumitra tumbuh dewasa bersama-sama putra Arjuna yang lain. Suara sumbang selalu ia dengar sepanjang hidupnya. Hingga saat-saat terakhir, suara sumbang itu masih terdengar dari saudara yang paling dekat dengan dirinya, Abimanyu.

Ketika perang Baratayuda memasuki hari ke-13, Abimanyu maju ke medan perang untuk membantu pasukan Pandawa yang terdesak. Mendengar kabar itu, Sumitra merasa terpanggil untuk berjuang seperti halnya anak-anak Arjuna yang lain. Kepentingan pribadi dikorbankan demi sebuah perjuangan, termasuk Dewi Kumalawati istrinya yang belum sempat dijamah pun ditinggalkan.

Di medan perang, Sumitra berada di samping kuda Kyai Pramugari yang dinaiki Abimanyu. Hujan panah menghadang laju langkah mereka. Sumitra berhenti bersandar di perut Kyai Pramugari. Kata-kata sumbang terlontar dari mulut tipis Abimanyu. ‘Dasar anak Jim, pantas saja jirih wedi getih. Melihat hujan panah tidak berani maju, takut darah,” gerutu Abimanyu.

Sumitra diam seribu bahasa. Kakinya terpaku di tempatnya, tak hendak melangkah maju. Hujan panah semakin deras menerjang. Abimanyu tak sabar. Disentaknya tali kuda kuat-kuat. Kyai Pramugari meloncat lari. Abimanyu terkejut. Ternyata Sumitra adiknya telah gugur. Tubuhnya rebah di tanah. Darah segar mengalir deras dari lehernya.

Kata-kata sumbang Abimanyu telah mengantar Sumitra ke alam keabadian. Abimanyu menyesal. Selama ini adiknya hanya dipandang sebelah mata. Padahal pada kenyataannya ia telah mendahului Abimanyu menjadi pahlawan yang pantas dihargai. Menghapus semua suara sumbang semasa hidupnya.

Herjaka HS
Foto: Indra

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here