Eksplorasi Musik Genteng dari Awajishima, Godean dan Jatiwangi

0
589

Di bidang musik, tak jarang para seniman bereksperimen melalui media dan bunyi-bunyian. Keunikan warna suara yang dihasilkan dari media-media eksperimental kadang membuat sang kreator semakin penasaran dan ingin semakin mendalami. Salah satunya yaitu dengan media genteng, yang merupakan pelengkap rumah yang berfungsi sebagai atap. Genteng-genteng tersebut sengaja dialihfunsikan menjadi media sekaligus sumber suara.

Di Jepang kini musik genteng populer. Sejak tahun 2013, organisasi nirlaba Awajishima Art Center bersama musisi Makoto Namura dan Kumiko Yabu mengkreasi musik dari genteng dengan slogan “mari membuat musik dengan genteng”. Program ini terus berkembang dan Awajishima Art Center telah mengadakan banyak konser dan workshop di berbagai daerah di Jepang.

Makoto Namura, Kumiko Yabu, dan Shin Sakuma, para seniman Jepang yang berhasil bereksperimen dan berkreasi melalui musik genteng atau dalam bahasa Jepang disebut “Kawara No Ongaku”, menggelar konser.di ruang museum Tembi Rumah Budaya pada Selasa 16 Februari 2016. Acara ini sekaligus menjadi program kegiatan bulanan yang diselenggarakan oleh Forum Musik Tembi (Fombi). Mereka berkolaborasi dengan seniman Indonesia seperti Welly Hendratmoko, Gardika Gigih, Memet Chairul Slamet & Gangsadewa serta Yohanes Subowo sehingga membuat penonton enggan beranjak dan sangat menikmati acara pada malam itu.

Para penonton yang memenuhi museum pada malam itu dibuat kagum karena nada yang dihasilkan oleh genteng-genteng tersebut dapat mengadaptasi layaknya nada-nada gamelan. Pada pertunjukan malam itu para seniman berkolaborasi menggunakan tiga genteng dari daerah yang berbeda yaitu genteng dari Awajishima (Jepang), Godean (Yogyakarta), Jatiwangi (Jawa Barat). Tak lupa Makoto Namura sedikit menjelaskan tentang bentuk dan beberapa masing-masing fungsi genteng di Awajishima. Dengan logat dan tingkahnya yang enerjik tak jarang penonton dibuat tertawa melihatnya.

Acara malam itu ditutup dengan menampilkan semua seniman yang terlibat, sehingga nuansa klimaks terasa. Para seniman bereksplorasi memainkan genteng-genteng dari tiga daerah tersebut. Bersatunya nada dan ritme turut membangun suasana, berpadu dengan gerak dan ekspresi penari yang selalu merespon setiap alunan nada. Malam itu menjadi malam yang penuh kesan. Berpadunya dua kebudayaan yang sama-sama ingin selalu mengeksplorasi bunyi. Berpadunya Jawa dan Awajishima.

Naskah dan Foto: Indra Waskito

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here