PAMERAN 'SATU KARYA SATU JIWA'

Pameran adalah bagian inheren dari perjalanan kreatif seorang perupa. Atau dalam bahasa Kelompok Jogjamming, “sebagai pertanggungjawaban moral masyarakat sebagai seniman”. Kelompok Jogjamming yang beranggotakan dua puluh siswa SMSR Yogyakarta kini tengah menunjukkan “pertanggungjawaban” mereka sebagai kreator, produsen, dan pencipta. Atau sebenarnya, yang lebih tepat, pameran bertajuk Satu Karya Satu Jiwa ini merupakan media komunikasi mereka dengan masyarakat.

Judul Satu Karya Satu Jiwa setidaknya menyiratkan dua hal. Pertama, karya rupa adalah milik sepenuhnya si perupa. Bukan sekadar si perupa tapi jiwa si perupa. Kata ‘jiwa’ seakan ingin menandaskan bahwa karya-karya mereka lahir dari jiwa, bukan dari, misalnya, pesanan pasar. Karya rupa adalah ekspresi murni sang perupa. Kedua, perbandingan satu karya dengan satu jiwa menunjukkan keunikan orang per orang perupanya. Kelompok ini karenanya seperti taman bunga yang berwarna-warni dengan kekhasannya masing-masing. Melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan kita akan melihat keragaman gaya, media, maupun persepsi. Ada realisme, dekoratif, abstrak, ekspresionis, dll. Ada lukisan, instalasi, hardboard cut, dll. Ada yang tampil manis, ada pula yang suram. Ada yang warna-warni, ada yang monokrom.

Dari karya-karya yang dipamerkan maupun usia belia penciptanya tampak bahwa mereka masih dalam proses kreatif yang terbuka luas ke depannya, baik dalam eksplorasi bentuk maupun tema. Realisme kucing, misalnya, diharapkan tidak berhenti sebagai ‘foto diri kucing’ saja. Toh semangat eksplorasi sudah kelihatan dalam sejumlah karya. Tinggal bagaimana konsistensi mengembangkannya ke depan, ditunjang potensi yang menjanjikan.