Beritabudaya » PUISI PUISI DARI SLAMET RIYADI SABRAWI
Puisi tidak pernah berhenti ditulis. Selalu saja ada penyair yang terus menghasilkan puisi. Bahkan muncul penyair-penyair muda. Di Yogya pernah ada medan kepenyairan yang dikenal dengan nama “PSK’ kependekan dari Persada Studi Klub. Banyak (calon) penyair, atau sastrawan yang berproses di komunitas ini. Tahun 1970-an, komunitas yang dikomandoi penyair Umbu Landu Paranggi ini ‘mewarnai’ Malioboro. Bahkan, PSK identik dengan Malioboro, apalagi ‘kantornya’ ada di Malioboro. Yang dimaksud kantor adalah redaksi mingguan “Pelopor’ ada di Malioboro, dan PSK adalah satu rubrik sastra di mingguan tersebut, yang diasuh oleh Umbu Landu Pranggi. Jadi, pertemuan para penulis, ketika tahun 1970-an dilakukan di Malioboro.
Ada banyak nama yang ‘lahir’ dari PSK, dua yang dikenal misalnya Emha Ainun Najib dan (almarhum) Linus Suryadi AG. Selain dua nama itu, sebenarnya masih ada banyak nama yang, sampai sekarang masih terus menulis puisi, diantaranya Imam Budi Santosa. Salah satu yang lain, dan tidak henti-hentinya menulis puisi adalah Slamet Riyadi Sabawi, seorang dokter hewan, yang pada masa PSK aktif menulis puisi. Bahkan sampai sekarang Slamet Riyadi, yang telah memiliki cucu ini, masih terus menulis puisi. Buku puisinya yang (telah) diterbitkan (sendiri), yang pertama berjudul ‘Lilin-Lilin Melawan Angin’. Yang kedua dan baru terbit, judulnya ‘Tiba-tiba ingatanku menjalari tubuhmu’. Selain dua yang dicetak, ada buku puisi lain dalam bentuk pdf.
“Puisi-puisi yang saya tulis ini berangkat dari ingatan saya, tidak harus ingatan mengenai masa lalu, tetapi bisa ingatan yang belum lama berselang” kata Slamet Riyadi. Selain dibincangkan di radio Eltira, beberapa minggu sebelumnya, bahkan pada saat buku baru selesai dicetak 100 eks, Slamet Riyadi Sabrawi membawa buku puisinya untuk dilaunching di Pekalongan. Selain dibacakan disana, kata Slamet ada pembahasan dari seorang penyair PSK yang sekarang tinggal dikampung halamannya, Pekalongan. EH. Kartanegara namanya. Jadi, selain tidak lelah menulis puisi, Slamet Riyadi Sabrawi, sangat senang membacakan puisi-puisinya. Mungkin dia percaya, bahwa puisi bisa membuat orang untuk awet muda. Mari, kita kutipkan salah satu puisinya yang menyangkut ingatan. Judulnya ‘Album Tua’. Simak puisi itu: Album Tua Kenalkan, aku albummu. Lalu kujabat tangannya, kuguncang kuat, Empat puluh tahun bayanganmu lewat. Bahkan sekujurmu samar. Di Aku tersedak pada bagian penuang kata bijak, kau kehilangan Menjelang halaman akhir kau mulai menyorongkan wajah getir. Juni 2011 Seorang guru besar, yang juga seorang penyair, Prof. Dr, Suminto Sayuti namanya mengomentari 100 puisi karya Slamet Riyadi dalam buku ‘Tiba-tiba ingatanku menjalari tubuhmu”. “Kebersahajaan tidak menghalangi Slamet Riyadi Sabrawi untuk mengedepankan ‘ingatan dan kenangan’ secara reflektif, baik yang personal, yang bersumber pada peristiwa keseharian di luar dirinya maupun yang bersandar pada peristiwa hidup kebudayaan dan alam. Beragam sumber ini mengarahkan Slamet Riyadi untuk memasuki proses refleksi dan ekspresi melalui ketidaklangsungan semantik yang beragam pula, yang semuanya melegitimasi bahwa Slamet Riyadi memang mencipta dan menulis puisi, dan bukan yang lain” kata Suminto Sayuti.
Beberapa hari yang lalu, Slamet Riyadi Sabrawi membacakan dan berbincang mengenai puisi-puisinya di radio Eltira 102,1 FM, Yogyakarta. Dalam perbincangan itu, Slamet menguraikan (dan membacakan) puisi-puisinya. Ada 100 puisi dalam buku ini, sehingga kita bisa ‘mendengarkan’ 100 ingatan yang kompleks melalui puisi-puisi Slamet Riyadi Sabrawi.
aku tak bermimpi kan? Tidak justru aku yang meacau kenapa
kutemukan dirimu menjelang kacau
Antara tahu dan rindu bergelut di suara getar. “Adakah aku derai
tawamu?” Lalu kususun mosaik wajahmu melengkapi kisah airkaikku
halaman pertama hanya ada foto abu-abu berkutat debu. Urat
mukamu merekat rambut kepangmu. Berurai bagai ekor kuda
menjuntai. Rima langkahmu menyusuri halaman dua.
jejak. “Barangkali kota-kota yang kusinggah menyimpan gundah”
kata sesalmu melangkah waktu.
\ribuan kenangan berdiri di titik nadir. Di lembar ini kau lupa
meletakkan angka. Atau kau enggan menjadi penutup halaman purna?
Ons Untoro







