Beritabudaya » LURIK YANG TERSISIH
Lurik merupakan salah satu tradisi budaya peninggalan leluhur nusantara, termasuk etnis Jawa yang hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang di Yogyakarta. Seperti halnya pada budaya batik, di dalam lurik juga terdapat corak-corak yang memiliki makna filosofis tertentu bagi masyarakatnya. Corak-corak tertentu itu antara lain biasa dipakai dalam upacara adat tradisi seperti saat pertunjukan wayang kulit untuk ruwatan, mitoni, dan sebagainya. Eksistensi nilai-nilai filosofis itu sangat penting bagi masyarakat penerusnya. Hanya saja, dalam kenyataan saat ini, keberadaan lurik tradisional di masyarakat Jawa mengalami penurunan drastis, baik dari sisi pemahaman makna dan produktivitasnya. Masyarakat sudah tidak begitu minat lagi terhadap lurik. Bisa jadi regenerasi juga sangat minim dilakukan oleh generasi sebelumnya. Untuk itu, lurik perlu dilestarikan, salah satunya adalah membuat dokumentasi lewat penerbitan buku. Demikian antara lain sambutan yang disampaikan oleh Drs. GBPH. Yudaningrat, M.M., Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi
DI. Yogyakarta pada acara “Bedah Buku: Lurik Tenun Tradisional Jawa” yang diselenggarakan di ruang Sri Manganti Room, Royal Ambarrukmo Hotel, hari Rabu (21/12) lalu.
Sementara itu, menurut Ninik Darmawan, penulis buku ini, mengatakan bahwa niatnya membuat buku khusus lurik tradisional Jawa ini karena kecintaannya terhadap tekstil tradisional lurik. Baginya lurik diminati, awalnya berangkat dari hal yang sederhana, bahwa lurik dipakai terasa sangat nyaman. Apalagi ia juga bergerak di bidang fashion dan desainer. Sebelum membuat buku, beberapa kali ia pernah keluar masuk dan mengunjungi sentra-sentra pembuatan lurik, baik di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta, termasuk mengunjungi sentra lurik di daerah Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Di daerah ini, awalnya ada se
kitar 100 perajin lurik tenun. Namun saat ini tinggal 4 perajin, salah satunya yang masih bertahan adalah Bapak Dibyo. Perajin lurik tenun terus menyusut karena berbagai penyebab. Menurut Ninik, penyebab menyusutnya perajin lurik tenun antara lain: 1) orang sekarang inginnya serba praktis, maka budaya lurik yang dibuat njlimet mulai ditinggalkan; 2) adanya persaingan industri tekstil yang ketat; dan 3) lurik berkesan hanya untuk rakyat jelata.
Masih menurut Ninik, buku lurik tenun tradisional ini dianggapnya masih sangat jauh dari sempurna karena disusun dalam waktu sangat singkat, yakni sekitar 24 minggu (5—6 bulan). Padahal agar isi buku lebih lengkap, setidaknya disusun dalam jangka waktu bertahun-tahun, seperti yang biasa dibuat oleh peneliti luar negeri yang memakan waktu hingga 24 tahun untuk menyusun buku Sementara menurut Sumaryono, buku lurik ini harus bisa mengungkap batik kejogjaan. Sebab, hingga saat ini, lurik identik dengan busana wajib yang dipakai oleh abdi dalem Krato Acara “Bedah Buku” ini juga mendapat tanggapan dari para budayawan, antara lain dari Ir. Condroyono, Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum., GBPH. Yudaningrat, dan lainnya. Masukan-masukannya adalah: materi apa yang hendak dikaji, sebaiknya diawali dari inventarisasi, penyebab lurik Yogyakarta stagnan, sebaiknya berangkat dari pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan budaya, dan lainnya. Sementara acara ini dihadiri sekitar 40 peserta dari berbagai kalangan. Pada malam harinya, akan digelar show dan pementasan peragaan busana bercorak kain lurik tenun tradisional yang telah dipadukan dengan bahan lain, bertempat di lokasi yang sama.
lurik. Namun begitu, setidaknya buku ini sudah bisa terwujud, walaupun masih harus dibenahi di beberapa bagian. Hadirnya buku ini juga dibahas oleh Dra. Anggi Minarni, Direktur Karta Pustaka Yogyakarta dan Dr. Sumaryono, Dosen ISI Yogyakarta. Menurut Anggi, sebaiknya buku ini juga diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris, karena bukunya termasuk luks. Hanya, apakah buku ini hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja? Untuk itu, selain edisi mewah, juga ada edisi biasa, agar masyarakat Jogja bisa ikut membaca dan memilikinya. Untuk foto-foto buku sudah bagus, hanya mungkin perlu ditambah foto-foto relief candi yang memuat tradisi lurik tenun, karena masih sangat relevan dengan situasi saat ini.
n Kasultanan Yogyakarta, dengan nama busana pranakan. Bahkan dalam busana pranakan itu mengandung konsep “telupat”. Bisakah buku ini mengupas tentang konsep itu?
Suwandi







