Hari-hari ini, di Bentara Budaya Yogyakarta ada bermacam kreasi boneka. Bukan sedang ada bazaar boneka, melainkan Bagong Subarjo, seorang kartunis dan seniman boneka sedang melakukan pameran boneka karya-karyanya. Selain Bagong Subarjo, yang lebih ‘dikenal’ dengan nama Bagong. Muhamad Fajar juga ikut pameran bonkal. Jadi, sampai tanggal 25 April, di Bentara ada seniman boneka yang menyajikan karya-karya mereka.
Tentu saja, ada beragam kreasi boneka. Ada yang oleh Bagong disebut sebagai ‘bontel’ kependekan dari boneka televisi. Karena boneka karyanya itu pernah ditampilkan beberapa episode untuk tayangan televisi. Selain itu ada ‘boneka rohani’ adalah jenis boneka untuk mengisi acara siaran agama, dan beberapa episode ditayangkan di televisi pada acara mimbar agama.
Ada jenis kreasi boneka yang lain, dan bukan karya Bagong, melainkan karya Muhamad Fajar. Boneka tersebut ditempelkan di dinding dan berbentuk tulisan, yang bunyinya; Akrobat. Jadi, kata ‘akrobat’ ditulis dalam bentuk boneka. Disekitar tulisan itu ada bo Rupanya, yang menyenangi boneka bukan hanya anak-anak. Orang dewasapun, apalagi perempuan, senang terhadap boneka. Model-model boneka, baik yang bersifat tunggal, tidak memiliki ‘kisah’ atau boneka dalam ‘kelompok boneka’, untuk kepentingan cerita, bisa ditemukan di pameran. Agaknya, untuk menegaskan, bahwa boneka bukan hanya sebagai hasil indsutri, melainkan merupakan jenis karya seni yang bisa dipelajari. Pada pameran boneka ini, ditampilkan boneka dalam bentuk ikan paus yang cukup besar. Disamping ikan paus ada kapal yang ‘ditumpangi’ para boneka. Barangkali, Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, pada ‘boneka rohani’ hendak memberikan kisah mengena Boneka yang dipamerkan dalam ukuran kecil. Mudah sekali digenggam dengan tangan, dan tidak perlu dipanggul. Anak-anak kecil pun, tidak merasa keberatan membawa boneka yang dipamerkan ini. Warna bonekanya macam-macam, sehingga memberikan kesan boneka warna-warni. Namun rupanya, membuat boneka bukan hanya persoalan teknis, melainkan, seperti halnya seni rupa, perlu memberikan karakter. Selain itu, pembuat boneka perlu memiliki visi edukas Karena itu, melihat boneka, yang ‘dihadirkan’ dengan membawa atau memegang senjata, kita akan segera melihat, bahwa boneka tersebut mengandung nilai kekerasan. Padahal untuk anak-anak, mestinya dijauhkan dari ‘ajaran’ kekerasan. Anak-anak sudah tahu, bahwa senjata merupakan alat kekerasan. Oleh sebab itu, mestinya, karya boneka tidak menampilkan sedang membawa senjata. Selama ini, sangat jarang pameran boneka. Yang sering diselenggarakan adalah pameran karya seni rupa. Boneka, bentuk dari karya seni rupa, selain dipamerkan bisa untuk dipentaskan. Tinggal memberi cerita, bisa menyangkut cerita fable atau lainnya, karya boneka langsung dimainkan. Tentu saja, bentuk boneka yang dipentaskan disesuaikan dengan kisah cerita yang dimainkan. Boneka karya Bagong dan Muhamad Fajar, rasanya memberi pilihan bagi anak-anak untuk mencoba belajar berkreasi.
neka-boneka digantung. Mungkin, yang dimaksudkan sebagai boneka akrobat.
Oleh karena itu, selain pameran diadakan juga workshop membuat boneka. Bagong sudah berulangkali menyelenggarakan latihan membuat boneka untuk anak-anak, namun boleh juga diikuti orang-orang tua, apalagi guru TK. Sepertinya, dengan senang hati Bagong membagikan pengetahuan membuat boneka kepada orang lain.
i kehidupan di laut.
i, agar anak-anak yang melihat boneka bisa ‘memetik’ nilai edukasi yang dikandung dalam karya boneka.
Ons Untoro
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











