
Antasena,
wayang kulit purwa corak Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Antasena
Antasena adalah anak ke tiga Raden Wrekudara atau Raden Bimasena yang berpasangan dengan Dewi Urang Ayu anak Begawan Mintuna. Ada beberapa nara sumber yang menyebutkan bahwa Dewi Urang Ayu adalah anak Sang Hyang Baruna penguasa laut.
Kisah kelahiran Antasena bermula ketika Pandawa yang berjumlah lima orang dan Kurawa yang berjumlah 100 orang sedang berlomba menggali sungai dari Kurujenggala, sebelah utara keraton Hastinapura hingga menyambung ke Sungai Gangga. Begawan Mintuna tergerak hatinya melihat Pandawa yang hanya 5 orang tak sebanding dengan Kurawa yang berjumlah 100 orang. Oleh karena rasa iba, Begawan Mintuna mengerahkan puluhan ribu anak buahnya yang berupa belut dan ketam, untuk membantu Pandawa. Dengan bantuan itu proses penggalian sungai yang di lakukan Pandawa berjalan lancar dan dengan cepat menyambung ke Sungai Gangga. Sungai hasil galian Pandawa diberi nama sungai Serayu. Sedangkan penggalian sungai yang dilakukan oleh para Kurawa tertinggal jauh. Bahkan Kurawa salah sasaran. Penggalian sungai yang seharusnya disambungkan ke Sunggai Gangga malahan disambungkan ke Sungai Serayu buatan Pandawa. Maka Resi Bisma yang menjadi penggagas perlombaan menyatakan Pandawa sebagai pemenang.
Keberhasilan Pandawa tak lepas dari bantuan Begawan Mintuna. Selanjutnya Begawan Mintuna berkenan mengambil menantu Bimasena untuk dijodohkan dengan Dewi Urang Ayu putrinya, dan kemudian melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Antasena.
Sesuai dengan harapan orang tua, nama Antasena mengandung makna: a berarti tidak, anta berarti batas, dan sena artinya prajurit atau perwira. Dimaksudkan agar Antasena menjadi seorang perwira perajurit yang mempunyai kemampuan tak terbatas. Antasena bertempat tinggal di kasatrian Randu Kumbala. Ketika masih bayi Antasena pernah dijagokan oleh dewa untuk melawan Prabu Kalarudra dari Kerajaan Giri Kedasar. Dalam pertempyran tersebut Antasena berhasil mengalahkan Prabu Kalarudra. Atas jasanya Antasena diberi kerajaan Giri Kedasar dan Begawan Mintuna diangkat menjadi dewa.
Antasena adalah satria yang agak bengal tetapi jujur dan pembela kebenaran. Sebagai cucu dewa penguasa laut Antasena memiliki pusaka sangat sakti berupa sungut yang berada dikepala seperti sungut udang. Antasena juga dappat hidup di dalam air karena dengan sendirinya mendapat kesaktian dari kakeknya.
Demi mengasah ketajaman batinnya pada usia dewasa Antasena pernah melakukan tapa dengan gelar Begawan Curiganata, seperti gelar yang dipakai oleh Baladewa.
Sebelum perang Baratayuda Antasena dan Wisanggeni saudaranya menghadap Sang Hyang Wenang untuk menanyakan peran apa yang bakal mereka jalankan pada perang Baratayuda. Sang Hyang Wenang bersabda bahwa Antasena dan Wisanggeni saudaranya tidak mendapatkan peran apa-apa. mereka masing-masing tidak tampil sebagai senapati, karena ia telah mati sebelum perang terjadi. Kematian Antasena dan Wisanggeni adalah mati mukswa yaitu dengan jalan memandang mata Sang Hyang Wenang sehingga tubuhnya mengecil dan kemudian hilang tidak terlihat.
herjaka HS
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











