Darah muda, ketika mendengarkan kata tersebut kesan pertama yang muncul dalam pikiran kita mungkin sesuatu yang penuh dengan semangat. Memang benar bahwa kata tersebut sangat identik dengan anak-anak muda, penuh semangat dan jiwa yang bergelora. Kita tidak bisa memungkiri hal tersebut, bahkan kita pun pernah mengalami masa tersebut selama menjalani dinamika kehidupan.
Anak-anak muda sekarang ini memang penuh dengan semangat, daya mereka berkreasi pun makin “liar”. Kreatifitas tanpa henti terus diciptakan, dan berbagai macam karya hasil dari imajinasi mereka bisa kita saksikan. Namun apa jadinya ketika anak-anak muda ini tidak memiliki ruang untuk mewadahi mereka?
Hal ini kemudian terjawab dengan munculnya geng anak-anak muda baik pelajar SMP dan SMA. Geng ini terbentuk sebagai “pelarian” dari ekspresi mereka yang tidak bisa ditampung dalam sekolah. Geng yang ada, tidak sedikit yang muatan di dalamnya berisi hal-hal negatif. Mereka dibentuk untuk rusuh atau tawuran, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak jelas, mabuk-mabukan, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam penggunaan drugs.

(Foto : Google.com)
Belum lama ini dalam sebuah media dikabarkan adanya tawuran antar sekolah yang menyebabkan tewasnya seorang pelajar dari salah satu sekolah. Korban meninggal karena tebasan clurit yang tepat mengenai jantung. Beberapa waktu lalu dalam sebuah event olahraga, tawuran juga terjadi antar dua sekolah yang menyebabkan kerugian dari pihak event dan penonton yang tidak tahu menahu penyebab tawuran.
Dari beberapa kasus di atas kita mendapat sebuah gambaran betapa menyedihkan sebenarnya, hal-hal yang terjadi di kalangan pelajar ini. Seharusnya sekolah memiliki wadah supaya anak-anak tersebut tidak terjerumus dalam sebuah geng yang dibentuk hanya untuk rusuh. Sekolah sebagai media pendidikan berperan aktif dalam pembentukan pribadi siswa untuk menjadi manusia yang utuh, tidak melulu pendidikan kognitif.
Ketika sekolah memiliki wadah yang baik, setidaknya hal tersebut mengurangi potensi adanya kerusuhan yang kemudian bisa mencoreng nama baik sekolah. Beberapa sekolah tampaknya juga sudah mulai memberikan penanaman nilai-nilai dan wadah untuk menampung semangat “berlebih” anak-anak muda. Penanaman nilai-nilai tanggung jawab dan jiwa kesatria agaknya juga bisa meredam kemungkinan terjadinya pembentukan geng dan tawuran.
Semangat anak muda memang bukan sesuatu yang bisa disalahkan, tapi cara mereka menyalurkan semangat itulah yang harus dibenahi cara pandangnya. Setidaknya mereka tidak melihat tawuran sebagai hal “biasa”, tapi melihatnya sebagai efek jangka panjang dan mampu membawa mereka ke dalam jurang permasalahan.
Ketika generasi muda ini kemudian di arah yang lebih kreatif, jelas ada sebuah pandangan yang cukup cerah untuk negeri ini. Generasi penerus bangsa yang tidak melulu identik dengan kekerasan dan hal-hal negatif, tapi generasi kreatif yang patut dibanggakan oleh negeri ini. Semoga ini menjadi refleksi bagi anak-anak muda di negeri ini. Salam merdeka!
RESA SETODEWO
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











