Demikianlah, judul tulisan ini merupakan judul buku, yang didiskusikan Selasa (22/110 lalu di ruang diskusi Prodi Kajian Budaya dan Media Pasca Sarjana UGM, dengan menghadirkan narasumber Hilmar Farid dan Jennifer Lindsay. Diskusi dimoderatori Kris Budiman, pengajar di Kajian Budaya dan Media. Jennifer sekaligus bertindak sebagai editor buku ini. Pada subjudul, ada ‘kalimat menjadi Indonesia 1950-1965’. Karena buku ini, meskipun ditulis oleh banyak orang, tetapi bukan sebagaimana kebanyakan buku kumpulan karangan, melainkan hasil riset pada periodisasi yang telah disebut diatas.
“Melalui buku ini kita akan melihat periode 1950-1965, dengan cara pandang baru, atau cara pandang berbeda. Karena selama ini, pada periode itu yang dilihat selalu peristiwa 1965” ujar Jennifer Lindsay.
Hal yang menarik, setidaknya seperti disampaikan Jennifer, masing-masing peneliti saling melakuan tukar data atau informasi, sehingga masing-masing saling melakukan ‘kerjasama’ dalam menulis untuk buku ini. Pada periode itu juga, demikian Jennifer, kita sengaja tidak menyoroti Lekra, karena sudah banyak orang menulis soal itu. Hilmar Farid, melihat buku ini bukan sebagai kebanyakan teks yang cenderung menatap hasil akhirnya, tetapi melupakan proses dan detil lisan lainnya. Dia mengatakan Teleologi dalan sejarah, menjelaskan gejala berdasarkan hasil akhirnya. Dia contohkan, misalnya menjelaskan ‘pergerakan nasional’ mengacu pada Republik Indonesia, yang dibentuk 1945, dan mengabaikan kekhususan dari pergerakan itu sendiri. Buku ‘Ahli Waris Budaya Dunia’ ini menarik, tetapi sedikit menggelisahkan bagi Halimar Farid, karena inisiatif penulisan buku ini malah datang dari orang lain, bukan dari kita sendiri. “Hal yang perlu dipikirkan sekarang bagaimana sarjana Indonesia sendiri membuat inisiatif semacam ini, dan mementukan sendiri agenda penelitiannya.” Kata Hilmar Farid. Buku ini memuat tulisan dari 18 penulis, diantaranya Keith Foucher, Tony Day, Hairus Salim, Budiawan, Melani Budianta, Choirotun Chisaan dan sejumlah penulis lainnya. Hairus Salim, menulis dengan judul ‘Muslim Indonesia dan Jaringan Kebudayaan’. Choirutun Chisaan menulis dengan judul ‘Pencarian identitas kebudayaan Islam Indonesia 1956-1965’. Men “Pada 18 Februari 1950 – kurang dari dua bulan setelah pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia—sehimpunan seniman (para penulis yang tergabung dengan mingguan Siasat semua laki-laki) melansir Surat Kepercayaan Gelanggang. Nama Gelanggang diambil dari suplemen kebudayaan di dalam mingguan Siasat. Surat pernyataan itu dibuka dengan kalimat yang sangat mengesankan: ‘Kami adalah ahli waris jang sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri,’ Dari kalimat di atas, Jennifer Lindsay meneruskan dengan perkataan: “Ada banyak hal yang menarik dalam pernyataan ini (diatas, pen), tetapi akan saya kemukakan tiga saja. (Dan salah satunya dikutipkan ini, pen).Pertama, adalah mengagumkan bahwa kata-kata pembuka pernyataan pertama menyangkut kebudayaan Indonesia ini menekankan konteks dunia. Sejak awal, para penulis Surat Kepercayaan Gelanggang ini mengakui proyek kebudayaan nasional Indonesia bersifat internasionalis; Indonesia menempatkan dirinya di dunia. Pernyataan itu memancarkan keyakinan diri mengenai tempat kebudayaan Indonesia di dunia – para seniman dan pemikirnya, atau orang Indonesia semua (‘kami’) adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia – bukan anak haram yang harus memperjuangkan hak-haknya. Dan kebuadayaan Indonesia jelas dilihat di sini di dalam kerangka interaksi terus-menerus dengan dunua—ia adalah warisan yang kami teruskan ‘dengan caranya sendiri’.”
“Sama halnya dengan sejarah kebudayaan 1950-1965 yang dilihat berdasarkan apa yang terjadi kemudian: G-30-S dan pembataian massal, serta munculnya orde baru” kata Hilmar Farid
yangkut judul buku ‘Ahli Waris Budaya Dunia’ apa yang ditulis oleh Jennifer Lindsay pada pengantar, kiranya bisa menjelaskan. Dengarkan apa yang dia lantunkan:
Ons Untoro
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











