Agaknya, sudah tidak lagi dingingat, bahwa Yogyakarta pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia. Namun kita tahu, sejarah yang tertulis bisa kembali dibaca dan orang akan mengenalinya. Untuk kembali membuka ingatan, mengenai sejarah Yogya Ibu Kota Republik Indonesia’, Rabu (4/1) lalu diselenggarakan satu peringatan yang diberi tajuk ’66 Tahun Yogya Ibu Kota Republik’. Ini artinya, 4 Januari 1946, Yogyakarta (pernah) menjadi Ibu Kota Republik. Satu talkshow diselenggaran di Parangkusuma Ballroon, Hotel Ros-In, Yogyakarta. Bertindak sebagai narasumber GBPH Jokokusuma, Prof.Dr. Pratikno, Dekan Fisipol UGM dan Kiai Jazir ASP. Sedianya, Sri Sultan HB X bertindak sebagai narasumber, karena berhalangan hadir dan harus pergi ke Jakarta, digantiknya GBPH Joyokusuma.
Sejak Sri Sultan HB IX, sebenarnya Yogyakarta telah menjalankan demokrasi. Sebagai pemimpin, beliau membuang ruang partisipasi publik. Karena itu, Prof. Dr. Praktikno melihat, bahwa Yogyakarta sebenarnya sudah memiliki tradisi demokrasi. Karena bagi Pratikno, demokorasi bukan hanya pemungutan suara.
“Demokrasi tidak identik dengan voting. Tetapi kedekatan antara pemimpin dan rakyat. Keterbukaan dan saling menghargai, dan menyadari bahwa pemimpin bekerja untuk kepentingan umum” ujar Pratikno. Dari konteks itu, sebenarny Sementara GBPH Joyokusuma melihat, DIY merukapan daerah, yang satu-satunya memiliki status Keistimewaan, karena itu memang perlu dibedakan dengan daerah khusus seperti yang disandang oleh Aech, Papua dan DKI Jakarta. Namanya saja istimewa, mesti berbeda dengan yang khusus, demikian Joyokusuma. “Martabak istiemwa saja memiliki perbedaan dengan martabak lainnya” kelakar GBPH Joyokusuma yang disambut tawa hadirin. Prof. Dr. Djoko Suryo, sejarawan dari UGM, yang hadir dalam talkshow ini, melihat, bahwa Yogyakarta yang ( Diskusi ini semakin hangat, karena peringatan ’66 Tahun Yogya sebagai Ibu Kota Republik’ sekaligus untuk meneguhkan status Keistimewaan Yogytakarta, sehingga tidak luput dari issue penetapan. Karena itu, ketika anggota DPR pusat dari Fraksi PAN, Totok Daryanto, yang hadir dalam diskusi dan ikut memberi pandangan, namun dilihat oleh seorang peserta tidak terlalu tegas, maka seorang peserta balik bertanya pada Toto Daryanto: “Saya mau bertanya pada pak Totok, pro penetanan atau pemilihan” tanya salah seorang peserta pada Totok Daryanto. Sambil tersenyum dan membalikan bedan ke belakang. Karena Totok duduk di depan dan yang bertanya ada di barisan belakang Totok Daryanto tanpa emosi dan sambil tersenyun menjawab: “Ya, saya mewakili Yogya, tentunya pro penetapan”. Agaknya, penyelenggara memang mempunyai maksud seperti itu, memperingati ’66 Tahun Yogya Ibu Kota Republik’ untuk menegaskan status Keistimewaan dan Penetapan.
a kita bisa melihat, ‘Tahta Untuk Rakyat’ seperti apa yang diwujudkkan oleh Sultan HB IX adalah bentuk dari demokrasi. Yag oleh Pratikno disebut sebagai ‘kedekatan antara pemimpin dengan rakyatnya’. Pemimpin Yogya, dalam hal ini Kraton Yogyakarta, yang dimulai dari Sultan HB IX, uang ‘menyerahkan negaranya’ hanya menjadi ‘bagian’ dari Republik Indonesia, merupakan sikap demokrasi yang luar biasa dari seorang raja.
pernah) sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, sesungguhnya telah memiliki dasar demokratisasi dalam pemerintahan, misalnya dibentuknya pemerintahan tingkat I, tingkat II dan tingkat III. Pola ini akhirnya dipakai sebagai model pemeritahan RI sampai sekarang.
Ons Untoro
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











