Setiap bulan Agustus kita selalu teringat akan hari Kemerdekaan Indonesia. Seluruh komponen bangsa, sampai tingkat RT tidak pernah sepi dari peringatan, walaupun sederhanana partisipasi masyarakat, tetapi menunjukkan bahwa rakyat Indonesia masih hirau akan peringatan kemerdekaan. Berbagai macam lomba, tidak pernah sepi, selalu saja diselenggarakan untuk menggairahkan semangat. Dari anak-anak sampai orang tua, ikut terlibat dalam bermacam lomba. Yang tak pernah ketinggalan lomba untuk anak-anak, bahkan juga untuk orang tua, adalah lomba mengambil uang logam yang ditancapkan pada buah semangka atau kates, dan buahnya sudah ditaburi arang. Cara mengambil buahnya tidak dengan tangan, melainkan digigit. Bisa dibayangkan gelak tawa tak bisa dihindari melihat wajahnya berlepotan arang.
Dari satu kampung ke kampung lainnya di seluruh Indonesia bisa dilihat bendera merah berkibar. Warga kampung menghias kampungnya dengan warna-warni, ada lampu hias segala. Warna merah putih pastilah tidak dilupakan. Disepanjang jalan, beberapa hari sebelum bulan Agustus sudah banyak penjual bendera merah putih, termasuk bendera merah putih kecil yang ditempelkan di kaca mobil Pendek kata, hari Kemerdekaan RI tidak akan lepas dari bendera merah putih.
Beberapa kali peringatan Kemerdekaan RI, setidaknya setelah rezim berganti, suasana pemerintahan yang penuh permasalahan mewarnai rakyat memperingati 17 Agustus. Namun seolah, gairah rakyat untuk berpartisipasi tidak surut, meski pemerintah dikepung banyak masalah. Yang paling parah dan tidak kunjung tuntas adalah masalah korupsi. Setiap tahun peringatan hari Kemerdakaan dirayakan, namun kasus-kasus korupsi belum pernah tuntas. Ada yang sudah dipenjarakan, namun ada juga yang belum, bahkan malah lari ke luar Indonesia.
Pada peringatan hari Kemerdekaan tahun 2011, usia Kemerdekaan genap 66 tahun. Pada usia ini, fenomena Nazarudin, orang yang diduga melakukan korupsi dan lari dari Indonesia sudah tertangkap. Artinya, suasana 66 tahun Indonesia merdeka diliputi kasus-kasus korupsi. Nazarudin hanyalah salah satu dari kasus korupsi yang belum terbongkar. Kasus Century, sampai hari ini belum selesai dan seolah malah mulai dilupakan.
Apakah momentum peringatan Kemerdekaan RI ini akan dijadikan untuk melakukan penegakkan hukum dengan salah satunya, membongkar kasus-kasus korupsi, siapapun orangnya? Rasanya, pertanyaan ini hanya tinggal pertanyaan, dan tidak mengusik para penegak hukum serta para pemegang kekuasaan.
Peringatan hari Kemerdekaan RI telah menjadi rutinitas. Ia bukan suatu momentum. Meskipun ketika Proklamasi dibacakan oleh Soekarno-Hatta untuk mewakili bangsa Indonesia adalah momentum upaya untuk menghapus penjajahan dari muka bumi. Tetapi, peringatan hari Kemerdekaan, oleh pemerintah tidak
berlandaskan dari semangat awalnya.
Sebagai warga bangsa, kita merasa trenyuh dan sedih. Pada usia Kemerdekaan 66 tahun, bangsa kita belum bisa ‘keluar’ dari kemiskinan. Belum bisa menegakkan keadilan. Belum bisa menghargai perbedaan. Belum tuntas, kalau tidak tepat disebut tidak mampu, mengurangi korupsi. Para elit politik malah saling berlomba melakukan korupsi. Lebih parah lagi, anak-anak muda yang dulunya anti korupsi, begitu masuk dilingkaran kekuasaan, bukannya memberi warna atau memperbaiki, malah mengikuti perilakunya. Politisi muda, dengan tenang dan tidak merasa bersalah, seperti halnya Nazaruddin misalnya, menyalah-gunakan kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompoknya.
Pada perayaan kemerdakann RI ke 66 ini kita merasa sedih pada sebagian politisi muda, yang mestinya bisa membawa ‘angin perubahan’ malah tenggelam dalam arus lama, yang dulu ditentangnya. Sepertinya, gugatan yang dulu pernah dilakukan sekedar pertunjukkan, sehingga ketika ada kesempatan ‘masuk’, bukannya meneruskan ‘gugatannya’, malah ikut berakting. Berpolitik di negeri kita adalah kata lain dari akting, dengan ‘alur cerita’ yang ditapaki berupa kunker, pembelaan terhadap rakyat dan seterusnya. Bermain politik tidak ada bedanya bermain drama, hanya panggungnya yang berbeda.
Kita juga terheran-heran mendengar berita biaya pemulangan Nazaruddin ke Indonesia membutuhkan biaya sebesar Rp 4 milyar. Sementara kita tahu, warga masyarakat, dengan suka rela memberi sumbangan di kampungnya untuk merayakan hari Kemerdekaan RI. Anggap saja, penangkapan Nazaruddin sebagai ‘hadiah’ untuk Kemerdekaan RI agar jaringan korupsinya terbongkar, tetapi biaya pemulangannya, mungkin, bisa untuk membiayai perayaan hari Kemerdekaan kampung-kampung di Indonesia.
Ringkas kata, kita mau mengatakan, perayaan Kemerdekaan RI ke 66 tahun 2011 masih dalam suasana ‘tidak bersih dari korupsi’ dan lemahnya penegakkan hukum.
Ons Untoro
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











