Kartini, yang sudah satu abad lewat, tidak pernah dilupakan. Setiap bulan April, terutama tanggal 21 April, peringatan untuk Kartini dirayakan, dari kalangan anak-anak sampai perempauan dewasa. Ada bermacam bentuk kegiatan, yang mudah ditemukan mengenakan pakaian adat. Ini ada satu bentuk peringatan Kartini, yang dilakukan oleh para perempuan dewasa dalam bentuk pameran karya seni rupa, yang diberi tema ‘Kartini: The Power of women in Art’. Pada kata Kartini, huruf yang menunjuk ‘art’ diberi penekanan, sehingga memberikan imajiansi ‘art’ pada kata Kartini.
Pameran dilakukan di gedung Purna Budaya, Pusat Kebudayaan Koesnadi
Hardjasumantri, kompleks UGM, 23 April – 2 Mei 2011. Sejumlah perempuan, tidak hanya perupa, seperti dokter, arsitek dan lainnya ikut ambil bagian dalam pameran ini. Mereka yang tampil dari kalangan perupa misalnya. Koni Herawati, Lucia Hartini Mella Jaarsma, Kartika Affandi dan lainnya. Dari kalangan professional, misalnya Dwita Hadi Rahmi, artsitek, Ida Safitri Laksono, dokter spesialis anak, Laretna T Adishakti, arisitek. Etty Indiati, dokter gigi dan lainnya. Sekitar 40 karya dalam beragam visual, termasuk karya instalasi dihadirkan pada pameran ini.
Sebagian karya yang ditampilkan, dari karya, sebut saja, perupa perempuan, menampilkan ‘dirinya’, dalam arti, tubuh perempuan sebagai Kartini, sosok yang terus dikenal perjuangannya, dan kata emansipasi seperti telah melekat dalam kesadaran perempuan. Malah seolah, problem Dalam kata lain, persoalan yang dihadapi perempuan bukan hanya pada pembagian kerja secara seksual, bahwa perempuan di wilayah domestik dan laki-laki di ruang publik. Tetapi lebih pada ketidakadilan yang, Padahal, kenyataan di lapangan, ada banyak pria, yang mengerjakan jenis pekerjaan domestik, yang identik sebagai pekerjaan perempuan. Laki-laki, tidak lagi tabu mencuci atau menyetrika. Atau juga, pria tidak lagi alergi di dapur untuk memasak. Bahkan di restoran atau di warung-warung kaki lima, kita sering menjumpai, koki atau tukang masaknya laki-laki, bukan perempuan. Karena Kartini adalah perempuan, dan pada masa hidupnya berjuang untuk ‘kebebasan’ perempuan, sehingga, sampai sekarang, kalau memperingati hari Kartini, masih mengingat memperjuangkan hak-hak perempuan. Memang, sistem patriarki belum memberi ruang yang sama antara laki dan perempuan. Oleh sebab itu, gerakan gender bukan hanya untuk perempuan, melainkan juga untuk laki-laki. Seni rupa Kartini, sebut saja begitu, dalam pameran yang mengambil tema “Kartini: The Power of Women in Art” sebagian besar karyanya menampilkan diri perempuan. Ini artinya, para perupa perempuan sedang ‘membicarakan’ persoalan dirinya.
figur yang divisualkan. Ada juga simbol perempuan, yang tidak menunjuk langsung tubuh perempuan, tetapi dari visual karya Dwita Hadi Rahmi, ‘Pit Jengki’ judulnya, adalah indikasi dari jenis kelamin perempuan. Karena sepeda jengki, atau ‘pit jengki’ memang sepeda untuk perempuan. Tubuh-tubuh perempuan, dalam bermacam ekspresi mendominasi dalam pameran dari karya-karya perempuan. Juga ada karya instalasi yang digantung, persis di atas tangga untuk naik ruang pamer lantai dua, yang yang membentuk linkaran dan bertuliskan ‘She’
gender ditengerai bisa ‘diselesaikan’ melalui kalimat emansipasi. Meski kita tahu, dikotomik domestik-publik masih menjadi persoalan, namun setidaknya ruang publik bukan lagi wilayah ‘terlarang’ untuk perempuan. Bahkan, banyak perempuan yang sudah ‘menghuni’ ruang publik sebagaimana laki-laki berada disana.
sampai sekarang masih terus dialami oleh perempuan. Karena itu, lukisan yang berjudul ‘Peran Siapa?’ karya Nita Juniarti, yang memvisualkan sosok perempuan yang terduduk lelah dengan kepala disandarkan pada kursi yang penuh baju (sudah dicuci, tetapi belum disetrika), dan dihadapan perempuan lelah itu tergantung baju laki-laki dalam rupa sama-samar. Nita, sebagai perupa, seperti sedang bertanya: Peran siapa wilayah domestik sesungguhnya harus mengambilnya? Mungkin, Nita sekaligus bertanya, mestikah mencuci dan menyetrika, sebagai jenis pekerjaan domestik selalu milik perempuan?
Ons Untoro
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











