Kalau kita coba perhatikan, diantara tersebarnya sejumlah spanduk dan baliho iklan, bisa ditemukan spanduk yang bukan sedang mengiklankan satu produk industri, atau sejenis barang lainnya. Namun spanduk ini, sekilas seperti sedang melakukan kampanye, atau lebih tepat sedang melakukan advokasi publik mengenai Keistimewaan Yogyakarta. Kalimat di spanduk bisa dibaca jelas berbunyi ‘Ijab qobul’. Menggunakan terminologi pernikahan, tampaknya untuk meyakinkan pemerintah pusat dan masyarakat Yogyakarta, bahwa Maklumat Sri Sultan HB IX pada 5 September 1945, dengan menggabungkan Ngayogyakarta Hadingrat kepada pemerintah RI, ditandai sebagai ‘Ijab qobul’
Spanduk bertuliskan ‘Ijab Qobul’ bisa ditemukan dibanyak tempat di Yogyakarta. Di dekat lampu merah, dan di tepi jalan yang mudah sekali
diakses publik, bisa kita temukan spanduk tersebut. Bukan hanya di kota Yogyakarta, kalau anda menuju ke kabupaten lain, akan bisa kita temukan sepanduk serupa. Misalnya, anda menuju ke Kulonprogo melalui Brosot dan melewati jembatan Srandakan, Bantul, akan melihat spanduk ‘Ijab qobul’ diterpa angin, sehingga kalimatnya bisa terbaca jelas.
Karena Keistimewaan Yogyakarta tidak bisa dipisahkan dari Sultan HB X sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarta. Di halaman tempat tinggal raja, yakni alun-alun utara, ada sejumlah bendera ‘Ijab qobul’ melambai-lambai tertiup angin. Kapan kita memasuki alun-alun utara, dari arah Dalam konteks ini, bukan ijab qobul dua sejoli. Melainkan dua negara menyatukan diri untuk menjadi satu negara. Atau malah bisa dikatakan, satu negara yang jauh lebih tua, yakni Ngayogyakarta Hadiningrat ‘merelakan’ dirinya hanya, sekali lagi hanya, menjadi bagian dari negara yang baru merdeka 17 Agustus 1945, Kerelaan Raja Ngayogyakarta Tampaknya, spanduk ‘Ijab qobul’ yang bertebaran dibanyak tempat di Yogyakarta, adalah upaya untuk mengingatkan sejarah Keistimewaan Yogyakarta, yang mulai dilupakan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini presiden SBY. Upaya ‘menghapuskan’ status Keistiewaan dengan dibenturkan demokrasi, seperti hendak mengatakan, bahwa status Keistimewaan adalah bentuk yang tidak demokratis. Padahal, pada masa rezim orde baru yang sama sekali tidak demokratis, Sultan HB IX, sebagai raja dan gubernur DIY, malah sangat demokratis. Sekarang, malah dibalik, negara yang sudah mulai demokratis, bertindak secara tidak demokratis, dan akan ‘menghilangkan’ Keistimewaan. Demikian, agaknya, pesan dari spanduk ‘Ijab qobul’.
manapun, kita akan segera melihat bendera ‘Ijab qobul’ bertebaran di alun-alun utara. Bahkan, di dinding pagar pohon beringin yang berada di tengah alun-alun utara, yang dikenal dengan nama ‘ringin kurung’, ditempeli spanduk bertuliskan ‘Ijab qobul’.
Hadiningrat ketika itu, dalam hal ini, Sri Sultan HB IX, merupakan sikap kenegarawanan dan tidak mementingkan kekuasaan pribadi. Respon Nagara RI, yang diwakili oleh Bung Karno, terhadap sikap Sri Sultan HB IX yang ‘merelakan’ daerahnya menjadi bagian dari RI, kemudian memberikan status Istimewa terhadap Yogya. Maka, Ngayogyakarta dimasa republik dikenal dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Sri Sultan HB IX sebagai gubernur dan Paku Alam VIII sebagai wakilnya, dan bertanggung jawab langsung pada presiden.
Ons Untoro
Museum TeMBI Rumah Budaya menerima penghargaan Sapta Pesona 2010
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Piagam penghargaan tembi.org dari Menristek Hatta Rajasa pada tahun 2004
Cipta Award 2011
TeMBI rumah budaya
sebagai
Finalis
Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Budaya Berwawasan Lingkungan Tingkat Nasional
TeMBI Resorts.
Get the beautiful moment and beautiful viewing in rural
Sa' Unine
String Orchestra
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
08561152733 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Baru Terbit !!!
PITUTUR LUHUR LELUHUR
Buku kumpulan pepatah Jawa yang diterbitkan Tembi Rumah Budaya untuk mengangkat kembali nilai-nilai lokal yang masih relevan dengan kondisi kekinian.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Kidung Malam
Novel KIDUNG MALAM terbitan terbaru dari Tembi Rumah Budaya, merupakan cerita bersambung karya Herjaka HS yang memaparkan sebagian jalan hidup yang ditempuh Durna hingga periode Kurawa dan Pandawa di Hastinapura.
Durna termasuk tokoh yang jarang dikisahkan secara tunggal, baik dalam novel maupun pertunjukan wayang. Karenanya penerbitan novel ini sekaligus melengkapi dunia novel wayang yang akhir-akhir ini semakin semarak.
Dapatkan segera di:
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Telp. (0274) 368000 atau 368004
Tembi Rumah Budaya
Jl. Gandaria I / 47B Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: (021) 7203055, 7253410
Harga Rp 35.000,-
Sa' Unine
String Orchestra
Buaian Sepanjang Masa
Harga CD Rp 90.000,-
Belum termasuk ongkos kirim
Pemesanan hubungi Titin di
085782989824 atau 021-7253410 / 021-7203055
Klik Disini Untuk Mendengarkan
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
“MUSIK TRADISI BARU 2012”
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
TeMBI Rumah Budaya - foMbi (forum Musik teMbi) mempersembahkan:
FESTIVAL MUSIK TEMBI 2012
KAMIS, 24 MEI 2012
PERTUNJUKAN MUSIK
Pk. 19.00 WIB
JUMAT, 25 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Elemen Tradisi Dalam Lagu Pop”
oleh FRANS SARTONO “Wartawan Musik Harian Kompas”
Pk. 13.00 WIB
SABTU, 26 MEI 2012
Bincang-bincang Musik “Pengkaryaan VS Empiristik” oleh PURWANTO “Kua Etnika”
Pk. 14.00WIB
PASAR MUSIK
24, 25, 26 Mei 2012 - Pk. 16.00 WIB

Indonesia
English











